KISAH DI BALIK PRODUKSI AYAT-AYAT CINTA (bag.3)
Bukan sekali ini aku mendapatkan persoalan pada saat membuat film.
Persoalan buatku adalah sahabat karib. Di Dapur Film aku menekankan ke
teman-teman, jika mau terjun ke dunia film, persoalan adalah bagian
hidup kita. Bukan berarti kita mencari persoalan, tapi persoalan harus
kita sikapi sebagai tantangan. Akan tetapi persoalan yang menimpaku
sekarang ini seolah tak berujung. Menangis sudah bukan suatu yang luar
biasa lagi.
Sejak kabar kita bakal sulit shooting di kairo aku
jadi tidak bergairah. Tapi kabar film AAC bakal diproduksi sudah
beredar. Posisiku sulit. Bersamaan dengan itu film produksi pertama MD
yang berbujet besar drop di pasaran. Sebuah film yang dianggap idealis,
bahkan tidak mampu menembus angka 100 ribu penonton. Keyakinan producer
mulai goyah.
‘Apakah kamu masih yakin AAC akan diproduksi?’ Kata producer padaku,
‘Iya’ jawabku yakin. Sekalipun aku sendiri tidak tahu apakah keyakinan itu sekuat dulu.
‘Apakah AAC adalah film yang bakal di tonton?’ tanyanya kemudian.
Aku lalu ingat pernyataannya tentang 80% penduduk Indonesia adalah
muslim. Kemudian aku membalikkan pernyataan itu kepadanya. Jawabnya …
‘Ya, tetapi setelah melihat realitas, penonton kita masih belum bisa menerima film-film berat.’
Beberapa detik aku sempet bingung dengan istilah film berat. Aku tahu
pada waktu itu kondisi psikologis producerku sedang drop. Tidak hanya
satu-dua juta kerugian yang dia tanggung di film pertama. Wajar jika
sudah menggoyahkan keyakinannya. Aku berusaha meyakinkan dia lagi
kalau AAC adalah film yang ditunggu penonton. Aku juga meyakinkan kalau
kita di dukung oleh Muhammadiyah. Tapi alasan itu tidak cukup buat dia.
Sebuah dukungan bisa dengan gampang dicabut. Tetapi sebuah produk yang
sudah diproduksi tidak bisa diuangkan. Investor tetap menanggung beban
besar. Intinya, dia butuh keyakinan kalau AAC adalah film yang bakal
ditonton lebih dari 1 juta penonton. Jumlah tersebut diperhitungkan
secara bisnis untuk balik modal, mengingat bujet yang dipersiapkan
untuk memproduksi AAC duakali lipat bujet standart Film Indonesia. Yah,
sekitar 7 Milyar.
Lalu produk seperti apa yang ditonton oleh satu juta penonton?
Pertanyaan itu yang akan merobah karakter Film Ayat-Ayat Cinta yang selanjutkan menjadi persoalanku kemudian.
Pertama yang dilakukan untuk menset-up produk agar ditonton oleh satu
juta penonton adalah mengubah scenario menjadi light. Scenariopun
dirombak total. Producer sempat menghubungi Musfar Yasin untuk
menggantikan Salman Aristo, karena pada saat itu Nagabonar jadi 2
meraih 1,3 juta penonton. Musfar menolak dengan alasan tidak etis.
Salman Aristo kemudian bersedia merubah scenario dengan catatan sedikit
keluar dari novel. Kita sepakat. Dalam hal ini Kang Abik sedikit kita
abaikan dengan maksud segalanya berjalan lancar. Mengingat kang Abik
kondisinya waktu itu tidak di Jakarta, sehingga untuk melakukan diskusi
scenario harus menghadirkannya dari semarang.
Skenario dibuat
dalam 2 minggu. Selama 2 minggu itu kegiatan persiapan menjelang
shooting dihentikan. Di minggu ketiga seharusnya kita sudah melakukan
shooting, terpaksa dilakukan persiapan lagi. Jadwal akhirnya mundur
satu bulan. Keberatan muncul dari para pemain. Sebagian pemain
Ayat-Ayat Cinta adalah pemain dengan jadwal ketat. Fedi Nuril sibuk
dengan album dan tour Garasi. Ryanti sibuk dengan jadwal MTV, Carissa
dan tante Marini sibuk dengan sinteron striping, Melanie putria dan
Surya Saputra sibuk dengan presenter. Kalau produksi ini mundur
schedule pemain yang akan sulit. Di bulan kedepan para pemain tersebut
sudah masuk schedule lain diluar Ayat-Ayat Cinta. Hal itu membuat Iqbal
Rais, asistenku kelabakan mengatur schedule. Dalam 2 minggu itu
pekerjaan Iqbal berkali-kali melakukan revisi schedule dan breakdown
shooting. Sedangkan Amelia Oktavia (amek) dan Ruth Damai Pakpahan
(Iyuth) yang bertugas sebagai casting director me-loby pemain kembali.
Itu tidak mudah tentunya. Schedule di luar AAC sudah terlanjur di
booking oleh para manajer. Malah beberapa ada yang sudah kontrak.
Seperti yang disepakati bersama, scenario rampung dalam 2 minggu. Tapi
bukan berarti persoalan selesai disitu. Tahap berikutnya adalah
menentukan dimana shooting dilakukan, mengingat kairo sudah tertutup
buat MD. Oh,ya … Hal mendasar yang membuat produksi ini mengalami
kendala kreatif adalah producer mulai menekan bujet produksi akibat
kerugian di film pertama. Pemindahan shooting di Indonesia dilakukan
dengan asumsi bujet produksi tidak semahal di Kairo. Padahal kenyataan
di lapangan tidak semudah asumsi itu. Sesuatu yang diciptakan dengan
set akan lebih mahal dibanding kita menggunakan set yang sudah jadi.
Kalau toh ditemukan rumah yang mirip dengan yang ada di Kairo, perabot
didalam rumah itu tidak bisa dipakai.
Menjelang shooting aku
dan producer banyak bertengkar soal itu. Pengajuan bujet untuk tata
artistic di potong. Begitupun dengan pengajuan lampu. Aku seperti
berada dalam ruang isolasi yang semakin lama dinding itu bergerak
menghimpit. Pada awal persiapan, konsep film AAC adalah menghadirkan
keindahan kota kairo dengan memotret lansekap sebagaimana tertulis di
novelnya kang Abik. Kini, terpaksa harus aku persempit mengingat lokasi
shooting tidak memadai dan peralatan pendukung dikurangi. Aku dan
Salman Aristo memutuskan memperkuat dramatik cerita daripada keindahan
gambar. Oleh sebab itu beban jatuh pada para pemain. Pemain harus mampu
secara meyakinkan membawakan karakter yang diperankan. Disini muncul
persoalan baru. Sekalipun Amek dan Iyuth berhasil me-loby pemain untuk
mundur shooting, tapi tidak bisa dapat waktu untuk latihan. Jangankan
untuk melakukan riset dan observasi peran, untuk melakukan reading
scenario saja waktunya terbatas. Kepalaku mendadak berat sekali.
Hari-hari shooting tinggal beberapa hari, tapi permainan mereka masih
jauh dari harapanku. Ya Alloh, selamatkan aku. Selamatkan film ini …
Pernah suatu kali aku minta mundur lagi karena pemain belum siap,
terutama Rianti dan Carrisa. Producer tidak memberikan ijin. Aku
bingung. Aku melihat Rianti dan Cariisa masih jauh dari harapanku. Pada
awalnya tokoh Aisha diperankan Carrisa dan Rianti sebagai Maria. Saat
latihan berlangsung, aku merasa keduanya tidak pernah mencapai klimaks.
Selalu saja ada yang salah. Kemudian mas Whani Darmawan selaku acting
coach (Penata laku) mencoba merobah posisi. Rianti sebagai Aisha dan
Carrisa sebagai Maria. Aku melihat ada perubahan ke lebih baik. Mungkin
tepatnya: Lebih pas … Tapi aku masih belum yakin dengan itu,
dikarenakan banyak persoalan kreatif lain yang menghimpitku. Aku tidak
bisa dengan jernih memutuskan. Lalu Aku minta bantuan Salman Aristo
untuk ikut memutuskan. Setelah melewati test kamera, aku, Salman Aristo
dan Producer bersama-sama melihat dan memutuskan siapa yang pantas
menjadi Aisha. Aku ingat waktu itu rapat untuk memutuskan siapa yang
pantas menjadi Aisha dilakukan 10 menit sebelum acara pers conference
yang menghadirkan PP Muhammdiyah Din Sayamsudin dan wartawan dari media
cetak dan TV. Di ruang lain, Rianti dan Carisa menunggu keputusan itu,
karena berhubungan dengan siapa yang akan memakai cadar dan jilbab pada
saat acara pers conference. Akhirnya, kami memutuskan Rianti yang
menjadi Aisha. Cadarpun terpasang menutup sebagian wajah cantik Rianti
Ketika hari Shooting ditentukan, pemain sudah disiapkan secara
schedule, Set sudah dibangun, mendadak ada kabar Ryanti akan di
deportasi karena masa tinggalnya sudah habis (Rianti masih menjadi
warag Negara Inggris saat ini), sehingga dia harus kabur ke Singapura
beberapa hari sambil mengurus perpanjangan masa tinggalnya di
Indonesia. Shooting yang sudah kita tentukan harus mundur lagi. Set
yang sudah dibangun harus dibongkar. Kepalaku mulai berat. Mataku mulai
kabur. Allohu akbar! Apa lagi yang harus aku hadapi? Berapa tetes lagi
air mataku kutumpahkan dan berapa lapang lagi dadaku aku rentangkan?
Ingin rasanya aku lari dari semua ini. Tapi aku selalu ingat pesan
ayahku, wong lanang kui kudu mrantasi … (Lelaki itu harus menyelesaikan
segala persoalan). Aku melihat sisi positif dari kemunduran ini. Aku
bisa focus latihan buat pemain. Akhirnya kamipun mundur. Karena set
yang sudah dibuat tidak bisa dibongkar, kita terpaksa shooting satu
hari tapi setelah itu break seminggu.
Pada saat shooting, aku
melihat kairo berdiri di Jakarta dan semarang. Aku melihat metro yang
dibangun bangsa Prancis di stasiun Manggarai. Aku melihat perpustakaan
Al Azhar dan ruang Talaqi masjid Al Azhar di Gedung Cipta Niaga Jakarta
Kota. Flat Fahri, Flat Maria dan Pasar El Khalili di kota lama dan
Gedung Lawang Sewu Semarang. Ruang sidang pengadilan Fahri di Gereja
Imanuel Jakarta. Apa yang dibangun Allan, art directorku, berhasil
meski dengan berbagai kendala keuangan yang tidak lancar. Untuk
membangun set dan menyediakan property, Allan sering mengeluarkan uang
pribadinya untuk menutup aliran uang yang tidak lancar. Gajinya yang
seharusnya di bagi-bagikan kepada krunya, habis buat belanja property
dan membangun set. Karenanya banyak krunya pada marah-marah dan kabur.
Pada saat shooting berlangsung, tidak begitu saja mulus dan on
schedule. Hari-hari pertama kami berhasil menghadirkan suasana kairo
dengan menyewa orang-orang arab sebagai extras. Karena shooting selalu
selesai tengah malam, orang-orang arab lama-lama tidak mau diajak
shooting lagi. Maklumlah, mereka bukan berprofesi sebagai pemain.
Kebanyakan dari mereka pedagang, mahasiswa, karyawan bahkan ada yang
dokter. Suatu kali pernah si dokter marah-marah karena shooting sampai
malam, padahal sebagai dokter dia tidak pernah berpraktek sampai malam.
Di hari-hari menjelang akhir shooting AAC, bahkan untuk mengajak gembel
Arab pasar Tanah Abang pun tidak bisa. Masya Alloh!!
Di Kota
lama dan Lawang sewu Semarang, kami menghadapi persoalan kamera
terbakar, hujan, berhadapan dengan preman Kota Lama, ruang sempit dan
lapuk karena tua yang membuat set lampu lama. Dengan begitu scene yang
seharusnya diambil jadi banyak terhutang. Untuk membayarnya, kita
menunggu jadwal pemain kosong, Amek dan Iyuth kembali me-loby, iqbal
rais kembali membongkar break down. Hal itu terus menerus mereka
lakukan sampai-sampai Amek dan Iyuth kehilangan muka di hadapan manajer
dan pemain. Tidak jarang aku melakukan improvisasi demi efisiensi.
Banyak adegan aku sederhanakan. bahkan dibuang. Tapi aku cukup senang
karena aku bisa merobah salah satu sudut kota lama semarang menjadi
pasar di El-Giza. Aku menghadirkan unta dari Kebun Binatang Gembiraloka
Jogjakarta. Penduduk kota lama Semarang dibikin heboh dengan munculnya
unta secara tiba-tiba di sana.
Shooting paling berat yang aku
rasakan pada saat adegan sidang Fahri. Aku memilih gereja Imanuel
Jakarta untuk di set sebagai ruang pengadilan. Aku menghadirkan lebih
dari 300 ekstrass. Semua pemain utama kumpul jadi satu. Penata kostum,
penata make up kewalahan menghadapi banyaknya pemain. Ini salah satu
scene dengan jumlah pemain paling banyak. Aku melihat hal yang unik di
sana. Banyak pemain memakai Jilbab bahkan bercadar, tapi mereka berada
di dalam gereja. Tanda salib bertebaran di atas kepala mereka. Suatu
yang lucu dan menarik aku lihat. Lalu aku ingat, pada saat aku masuk
masjid Al Azhar, bahkan untuk ijin memotret saja tidak mudah. Apalagi
shooting. Tapi di gereja Imanuel ini, aku tidak hanya membawa kamera
dan lighting. Aku bahkan memasukkan teralis penjara sebesar 3 meter
persegi didalamnya. Aku tertawa kalau memikirkan itu …
Tidak
terasa, persoalan sudah menjadi bagian dari produksi ini. Malah, ketika
persoalan tidak muncul aku merasa ada yang aneh. Terlepas dari semua
itu, aku senang bisa terlibat dalam persoalan. Terlebih lagi, persoalan
itu bisa terpecahkan sekalipun dengan air mata. Semoga kedepan, aku
bisa lebih dewasa.
Robbana afrigh alaina shabran wa tsabit aghda mana fanshurnaa ala qaumil kafiriin ...
( ...Ya Alloh, limpahkan kami kesabaran. tegakkanlah kaki kami kembali. Lindungilah kami
atas orang-orang yang membenci kami ...)
Hingga shooting ini selesai, kami masih berhadapan dengan puluhan
persoalan lagi. Nantikan di bagian IV (AAC hijrah ke India untuk
menghadirkan Sungai Nil, Padang Pasir dan kota) ...

Wah, masalahnya banyak ya?
Jadi pengen nonton
Btw kapan nih bikin film kaya jomblo lagi? menurutku sih itu karya mas Hanung yang paling ok banget..
sukses selalu mas.. jangan kapok bikin film ya
Posted by: Ahmad Dendi | December 6, 2007 03:11 AM
well,banyak ya obstaclesnya, settingnya di Indonesia ya, mudah2an nuansa kaironya kerasa ya apalagi pas yang fahri harus kena badai padang pasir pas mau berguru Talaqi, itu efek pasirnya kalo keliatan kan wah bisa keren bgt, kebangun gitu suasananya, trus kalo maslah panas, karena adanya glogal warming yg udah kerasa di Indonesia, gak masalah deh pasti kebangun suasananya panasnya, hehehe ,yu ah ditunggu ya filmnya
Posted by: david | December 6, 2007 05:06 PM
Ga sabaaaaaaaaaaaaarrrrrrr
Pengen tgl 19...Pengen nontoooooooooooooonnnn!!!
Posted by: Winnie-Azzaida | December 7, 2007 10:16 PM
Mas, jangan khawatir, udah banyak yg nuggu filmnya,,gak sabar..smoga jerih payahnya terbayar, gk hanya untuk keuntungan materi tapi pesan kbaikan di dalamya..
Posted by: Ayuku | December 9, 2007 05:30 AM
jalan menuju sukses pasti banyak cobaannya,bner g?
bgitu juga film AAC ini,klo mas hanung yakin pasti berhasil.
aku yakin pasti ada hadiah yang setimpal dengan yang mas hanung n cs laksanain... aq penasaran sm filmnya..
caaaayyyoo...
Posted by: Jian Batari | December 11, 2007 12:35 AM
setelah kesulitan ada kemudahan... semoga ntar penontonnya diatas 2 juta...
Posted by: Sasmita | December 11, 2007 04:04 PM
wah....sebenernya kecewa sedikit sih karna shootingnya ga jadi di kairo....
emang bisa mas stasiun di manggarai jadi metro....metro kan subway...yah tapi saya percaya aja deh ma mas hanung....
tapi tetep aja kan enakan di kairo mas haduhhhhhhhhh....
udah jadi lagi filmnya.....
Posted by: apit'z | December 12, 2007 11:32 PM
bagian keempatnya kapan nih? nggak sabar euy.. hehe
Posted by: Khaidar | December 13, 2007 06:56 AM
Subhanalloh... saya salut sama kesabaran Mas Hanung,, saya jadi bener2 pengen nonton film ini... Saya yakin film ini akan sukses, tp kalaupun tidak, saya msh akan mengacungkan 2 jempol saya untuk semangat dan keseriusan crew dalam membuat film AAC ini. Saya yakin para crew sdh berusaha yg terbaik, dan saya yakin kesabaran Mas Hanung akan membawakan hasil yg baik. Amieen...
Posted by: Firman | December 22, 2007 10:27 PM
sabar yach..mas!!orang sabar di sayang Alloh, mudah2an AAC dapat mendobrak 2,6 juta penonton melebihi Naga Bonar jadi 2..doa ku selalu menyertai karya emas mu..
Posted by: handi | December 29, 2007 11:20 PM
tenang aja mas hanung 2,6 jt kurang 2 mas..... Aku pastiin orang 100 pertama yang bakalan nonton tuh film.....
Novelnya aja dah berapa puluh dah kujadikan hadiah pernikahan temen-temen.....(he he promosi) isyaaloh bukan maksud angkuh...
"Sukses buat karya asli bangsa kita....
Posted by: reenouz | January 4, 2008 12:56 AM
Yg sabar yah mas saya dukung terus pk doa pk na terasa lah saya jg pas kemaren coba buat film bisu tugas kampus yg cuma durasi 14 gila2an ngerjain nya
Salam UnpAz
Posted by: mRdMud mM | January 4, 2008 08:28 AM
cepetan ya...jadwal tayang
nya dah kebelet nech kepengen nonton
Posted by: rika | January 5, 2008 07:48 AM
diundur sampe kapan yah :-/ , moga moga nggak terlalu lama, ane tunggu filmnya skalian ngajak temen2 ikhwan, kapan lagi nonton film bioskop temanya islami kayak gini, tolong jangan pesimis mas, INNALLOHA MA 'ANA, kliatannya film ini yang nonton bukan hanya dari kalangan pop doang, dari kalangan aktifis yng bergerak dalam dakwah yang karakternya bisa dikatakan anti nonton bioskop, pada pengen liat karakter novel kesayangannya, niatkan semuanya karena Alla mas
Posted by: Imron | January 13, 2008 04:53 AM
mas hanung .. skenarionya jgn sampe jauh bgd dari novelnya ya..
jgn sampe nge-pop bgd,,
ky sinetron2 skr..
keep d idealism..
chayoo
Posted by: AuVa | January 13, 2008 04:53 AM
Keep Istiqomah . . .
(^_^)
Posted by: 4 L 1 | January 13, 2008 06:45 AM
Subhanallah.
setelah membaca kisah pembuatan aac. sy jadi berpikir ulang.
awalnya pengeen berat nonton aac, tapi terbentur idealisme : masak akhwat 'uyel2-an' nonton bioskop?, bercampur baur laki2 n perempuan...de el..el. tapi setelah baca perjuangan mas diatas. kaya paradigma harus diubah dikit deh. insyaAllah, kita2 akan nonton nantinya. agar semakin banyak film2 indonesia yg memberi pencerahan. yah, semoga. yg jelas kami akan selalu mendoakan orang2 yg berjalan atas nama Tuhannya. semangat y mas...
Posted by: lilyan | January 16, 2008 02:49 PM
Darahku menggelora membuat mataku terbelalak. Islam sangat indah. Islam sangat eksotis. ..
Sabar ... Sabar ... Ikhlas ... ikhlas!!!
Film ini mampu dan sudah merobah pandangan hidupku: tentang agama, kesetiaan, kerjakeras, komitmen, dan ... cinta. Berkali-kali aku berucap syukur yang besar kepada Tuhanku yang sudah memberikan aku jalan menuju kedewasaan..........
Smg begitu pula yang nonton film ini...merasakan kentalnya aroma IDEALISME SINEAS INDONESIA yg kebanyakan tergadai atas nama profit dan mainstream perfilman nasioanal...
Barokallah mas...
Sgl yg terasa pahit pada awalnya, insya Allah akan manis pada akhirnya..
Posted by: diah | January 22, 2008 02:36 AM
Mas, tenang ajah, dah banyak yang mau nonton kok. Kapan nih mau tayang? Dah ga sabar..Temen2 sekampus dah aku suruh nonton kok..^_^
Semangat!!!!
Allah bersama orang2 yang sabar...
Posted by: sYariFahH | January 31, 2008 05:07 PM
Insya Alloh segala sesuatu akan ada solusinya, tergantung niat dan usaha kita...
Tetap semangat mas...
Posted by: Admal | February 11, 2008 01:00 AM
mas hanung.... yakin aja, kalo Allah SWT membawa mas sejauh ini hanya untuk meninggalkan Mas. sukses buat aac. Amien
Posted by: BUSRAN | February 24, 2008 03:33 AM
wah ....
mas hanung banyak banget ya cobaannya.
Aku kagum ama mas hanung, mampu mengatasi cobaan yang berat.
ow ya, aku udh nonton lho film AAC. Filmnya bgs banget, dan sedih banget.
sukses buat mas hanung!!!!!!!
Allah selalu menyertaimu.
Posted by: Dhiyana | February 27, 2008 05:57 PM
Mas Hanung .. kasih response dong di review movieku tentang film Ayat² CInta .. di
http://deconlabel.com/2008/02/28/ayat-ayat-cinta-the-movie-my-review/
kali aja ada saran dan ide yang nyanthol .. :) thanks a lot
Posted by: TiNTiN TeGuH | February 28, 2008 05:42 AM
Mas Hanung .. kasih response dong di review movieku tentang film Ayat² CInta .. di
http://deconlabel.com/2008/02/28/ayat-ayat-cinta-the-movie-my-review/
kali aja ada saran dan ide yang nyanthol .. :) thanks a lot
Posted by: TiNTiN TeGuH | February 28, 2008 05:42 AM
trima kasih atas kesempatan yg diberikan utk ikt bergabung dlm produksi AAC di semarang....dan ALLAN sbg art director sdh memberiku kesempatan untuk mjd rekan satu tim...saya merasa takjup dgn set yg dibangun di lawang sewu dan kota lama...trima kasih mas Hanung dan Allan utk kesempatannya....
Posted by: bang ben | March 1, 2008 07:44 AM
assalamualaikum,,,mas hanung
sukses ya di Film aacnya,,,
apapun yang terjadi dan banyak celaan,yakinlah perjuangan yang berat itu akan ada hasilnya,,kalo tidak ada di dunia,insya allah diakhirat nanti,,
allah tidak akan memberatkan kaummya,,sebagaimana kemampuannya untuk menyelesaikannya,,
jangan pernah putus asa,,saya lebih kagum liat mas hanung untuk film agama ini daripada film yang lainnya,,
semangat ya mas hanung,,allah selalu bersama kita..
jazakallah khoiran katsir..
wassalam
Posted by: ukhti | March 6, 2008 11:53 PM
Mas Hanuung ,.... Don't Give Up !! Tetep Semangaattt + Isiqamah ... Allahu Akbar !!!
Posted by: IQBAL | March 8, 2008 07:49 PM
wah, mas hanung i know susahnya bikin film, hehe... kebetulan aku mahasiswa broadcast yg baru aja bikin film pendek. padahal cuman film berdurasi 15 menit saja tapi syutingnya udah kaya apaan tau, sampe tepar2 deh pokonya, haha... hasilnya? ya gitu deh namanya juga pemula, hehe, menghibur diri gitu.
btw, aku udah nonton aac, terus terang aku ga baca novelnya & in my opinion aac salah satu dari sedikit film indonesia yg bermutu!! yeah, walopun banyak kekurangan disana sini; kurangnya visualisasi yg mendukung sebuah kota kairo dgn sejuta keindahannya, megahnya piramid, sungai nil, dan teman2nya... tapi ya itu tadi krn sulitnya birokrasi n budget yg terlalu mengada-ngada. namun yg paling amat disesalkan dari aac adalah kenapa BOCOR? piye iki mas? ko bisa-bisanya bocor? memangnya ndak pake VTR pas lagi syuting? kalo bocor satu kali mungkin penonton ga terlalu "ngeh" dan mungkin bisa dimaafkan tapi ini banyak sekali lho bocornya... boom mike sampe tiang-tiangnya in frame dalam beberapa shot n scene! apa ndak ada gambar cadangan? atau diakalin gtu pas proses editing? sebenernya tidak ada film yg sempurna walau sebenernya film ini bisa menyandang predikat tersebut namun sayang "ternoda" akibat kebocoran2 yang tak lagi dapat ditolerir.
Posted by: amanda | March 14, 2008 10:05 PM
wah,,seru bgt tuch filmx ayat-ayat cinta yg pastix (^_^)
Posted by: Friska Cynthia | March 22, 2008 06:49 AM