« KISAH DI BALIK PRODUKSI AYAT-AYAT CINTA (bag.1) | Main | KISAH DI BALIK PRODUKSI AYAT-AYAT CINTA (bag.3) »

KISAH DI BALIK PRODUKSI AYAT-AYAT CINTA (bag.2)

   

L_masjid_al_azhar_1
Kairo adalah kota dimana manusia-manusia Fahri, Aisha, Maria, Noura, Nurul, dan segudang manusia-manusia ciptaan Kang Abik bertebaran, hidup, saling bicara dan saling mencinta. Kairo sangat indah kata kang Abik. Sudut-sudut pasar El Khalili, jalanan di Down Town, Menara-menara masjid termasuk didalamnya Masjid Al Azhar dan University of Azhar Cairo. Sangat detil kang Abik menggambarkan itu dalam novelnya, yang membuat aku tertantang untuk mewujudkan dalam gambar: Bangunan-bangunan tua peninggalan 3 Dinasti (Firaun, kesultanan dan Penjajah Perancis), Kios-kios berdempetan berhadapan dengan trotoar-trotoar sempit yang penuh dengan pejalan kaki, terkadang diisi kursi-kursi rotan café pinggir jalan yang meletakkan seorang tua sedang menyedot shisa. Lalu 5 jam dari tempat itu, menuju matahari terbit, kita melihat kampung tua El Giza dengan aroma kotoran unta yang … hmmm, sekilas menjijikkan, tetapi … tertutup oleh eksotisnya lingkungan khas kairo. Bangunan  itu berdiri dari tumpukan bata-bata merah yang dipoles campuran semen dan pasir. Menjadikan warna coklat muda dominan, berpadu selaras dengan warna tanah, warna kain-kain yang dipakai membalut tubuh gadis-gadis kairo, dan warna kulit unta. Bangunan itu ada banyak. Bertebaran. Saling berdiri begitu saja. Tidak begitu rapi seperti bangunan-bangunan kuno di Itali atau paris, tapi sangat menarik bagiku. Apalagi dengan latar belakang sepasang pyramid yang gagah menjulang menyentuh langit.
Kairo … ah, Kairo. Di kota ini aku akan meletakkan kamera, melukis dengan cahaya, membangun set dan meletakkan pemain-pemain didalamnya. Pemain Indonesia yang bergaya selayaknya orang kairo asli.
    Aku datang bersama tim kecil, menjalin kerjasama dengan local production house, Egypt Production. Mereka sangat senang menyambut kedatangan kami.  Kata mereka, tidak mudah membuat film di kairo. Skenario film harus dapat ijin dari sensor film. Tidak seperti di Indonesia. Bisa dengan gampang membuat film apa aja. Karena waktu yang kita punya sangat sempit, ijin yang seharusnya 3 bulan, bisa diurus dalam 2 minggu oleh seorang local producer bernama Tammer Abbas; seorang muslim kairo, cerdas, berpengalaman di bidang film dan kharismatis. Tammer mem-provide apa yang kita butuhkan: Hunting Lokasi, akomodasi dan transportasi hingga penyewaan alat. Di benankku, sedemikian jelas tergambar film ini akan sedetil seperti yang kang abik tuliskan di novel.
    Setelah riset selesai dan scenario jadi, 20 tim dari Jakarta datang untuk melakukan hunting lokasi sekaligus test kamera. Kami melakukan shooting di sebuah tempat di El Giza. Alat-alat yang di sediakan buat kami jauh lebih bagus dari yang sering kita pakai di Indonesia. Kami sangat di support disana. Kami melakukan persiapan di kairo selama 2 minggu. Tammer akan mensupport semua shooting di Kairo berikut kostum, lokasi, crew dan pemain pendukung. Film ini benar-benar akan menjadi film Indonesia yang shooting total di Luar Negeri. Baru pertama kali terjadi dalam sejarah perkembangan film nasional. Bisa dibayangkan, bagaimana perasaanku waktu itu. Ibu, aku akan persembahkan yang terbaik buatmu … sebuah film agama yang indah dan bersahaja. Yang akan kau kenang … dan semua umat muslim Indonesia dan dunia tentunya …
    `Mendadak semua berhenti begitu saja. Impian itu kandas. Producer membatalkan shooting di Kairo dengan alasan bujet produksi yang ditawarkan Egypt Production tidak masuk akal. Tammer Abbas menawarkan angka 3 kali lipat produksi standart Film Indonesia. 1 Film AAC di produksi sama saja memproduksi 3 film layar lebar di Jakarta. Siapapun producer di negeri ini akan berfikiran sama: Membatalkan produksi Film.
    Seakan runtuh bangunan  mimpi yang sudah aku bangun. Satu persatu menimpaku.
    Tapi producerku tidak begitu saja berniat membatalkan produksi film ini.
    ‘Kita sudah terlanjur berjanji dengan banyak orang.’ Katanya …
    Bersama-sama kita mulai memikirkan bagaimana AAC bisa diproduksi sesuai dengan apa yang kita inginkan. Kemudian kita mencari sponsor untuk bisa tetap shooting di Kairo. Kita menjalin kerjasama dengan The Embassy of Egypt di Jakarta. Lewat hubungan baik dengan ketua PP Muhammadiyah Din Syamsudin, mereka setuju dengan tawaran ini. Kata Dubesnya, Film ini akan dikelola oleh dua Negara: Indonesia dan mesir. Sebelum di putar di bioskop, film ini harus diputar dihadapan presiden Negara-Negara Islam di Asia dan Timur Tengah, begitu kata Dubes. Betapa senangnya aku mendengar kabar ini. Impianku bangkit. Ku kabarkan berita ini ke teman-teman crew dan pemain. Mereka kembali semangat. Akhirnya dibuatkan kesepakatan antara dua Negara melalui Dubes Mesir-DepBudPar-PP Muhammadiyah. Bersama-sama kita melakukan pers conference, mengabarkan berita gembira ini ke masyarakat.
    Namun lagi-lagi semua itu tidak ada artinya. Pemerintah mesir, sekalipun memberikan dukungan buat kerjasama ini, tidak bisa melakukan intervensi terhadap harga-harga termasuk di dalamnya Equiptment, lokasi, property. Itu adalah hak perusahaan swasta. Artinya, sekalipun di dukung pemerintah, tetap tidak bisa mempengaruhi harga. Harapan shooting di Kairo akhirnya kandas. Terlebih lagi pihak Egypt Production tiba-tiba mengirimkan tagihan atas hunting, pelayanan persiapan dan test kamera selama di kairo sebesar 500 juta rupiah. Angka yang tidak masuk akal buat producer untuk harga test kamera dan hunting. Biasanya di Jakarta kami melakukan hunting sekitar 5 juta sampai 10 juta. Test kamera gratis kita lakukan karena itu salah satu fasilitas perusahaan penyewaan alat.
Akhirnya producer tidak mau membayarnya. Terjadilah perselisihan antara keduanya. Pihak Egypt Production melayangkan surat gugatan ke pihak KBRI di Kairo. Pihak KBRI kairo mengirimkan surat ke Departemen Luar Negeri Indonesia dan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata yang isinya terjadi penipuan pihak MD kepada perusahaan Kairo. Berita ini membuat Deplu dan Depbudpar menarik kembali dukungannya. Begitu juga dengan pihak Dubes Mesir. Seperti sebuah drama tragedy saja, nasib produksi Ayat-Ayat cinta tidak terselamatkan. 
    Terbayang olehku bangunan-bangunan  bersejarah, menara-menara masjid Azhar yang tinggi menjulang, kios-kios berjajar, pasar-pasar tradisional, pyramid, guran sahara, pantai Alexandria yang indah … hilang … hilang ditelan angin begitu saja. Lalu pesan ibu terngiang : … Kalau kamu sudah bisa membuat film, buatlah film agama …
    Ana aasif … ya ummi …

                            

Comments

Kairo emang menarik.. dan lebih eksotis ketika mas hanung yang bertutur..

cayoo mas.. maju teruss...

Wah,,, ternyata gak mudah m'adaptasi novel ke film, banyak halangan yang menghadang.

semoga M'hanung dan cre MD bisa menyelesaikan masalah2nya dan akhirnya film bisa kelar...(amin)

film ini adalah film paling ditunggu oleh gw da temen.

Semangat, M'hanung!!!!

Assalamu'alaikum ..
Mas Hanung, Alhamdulillah sudah ada next generation yang memikirkan hal ini. Dalam bentuk Film.. Why Not?
Aku percaya film ini menarik, film ini sangat layak jual, dari catatan ringan di fs, aku sudah bisa membayangkan apiknya film ini..
Sekedar saran untuk menentukan kualitas selayaknyalah kudu kerja keras, tantangan itu perlu dan pasti..
so never give up dah!
Maju terus Nung, total dan total saja dengan film ini dan benar2 jadi kenyataan yang indah dari sebuah novel fenomenal, Amin..
Ibu mu benar Mas Nung.
Dan jujur Kang Abik hueebaat tenan, dan I believe you too :D Amin.. Amin.. Amin..

Mas Hanung, aq dah baca blog dibalik AAC, awal aq tahu kalo AAC bakal difilmin, aq emang rada gmana gitu, soalnya novel ini yang buat Islamku makin kuat, sueer, novel yang bener2 nyerap ampe ke jiwa, ampe ga takut lagi cobaan apapun yang bakal dateng, karena dibandingkan sosok fahri yang bener2 tawakal banget,ternyata cobaanku jadi kerasa ga ada apa2nya, ampe aq jadiin sosok fahri fiktif sebagai idola tercool, keren deh,yang bisa aku lakuin cuma berdoa n support mas semoga, filmnya sedahsyat bukunya n jadi film pembangun jiwa sebagaimana bukunya, Semangat MAS, Kalo niat baik Pasti ALLAH ngasi jalanNYA, SemangaAAAAAAAt

mas....saya dukung sepenuhnya dengan doa saja yah.....hehehehe....
pantesan kok gada kabarnya shooting di kairo tiba2 udah muncul aja nih pilem....hadohhhh
emang begitu tuwh orang mesir.....dikit2 duit.....hoalahhh
saya juga berantem mulu ma mereka....setiap berantem dalem hati saya ngomong hadohhhhh ini si mesir awas ntar klo gwe lagi di indo ada orang mesir gwe kerjain dah....hueheuheuhueue.....
waktu ke mesir makan di rumah makan la tansa yah mas....enak kan mas...hueheuhuehuehue

Alhamdulillah,
ini kali pertama saya memberikan komentar buat mas hanung, atas jiwa dan perasaan yang pasrah. "Saya harus mendapat tempat yang paling nyaman untuk menikmati film ini, pas di atas tangga masuk bioskop, di tengah-tengah sejajar dengan layar yang lebar". Siapa sih yang tidak terguguah dan menitikkan air mata ketika membaca Ayat-Ayat Cinta yang cuma tulisan semata. Kemudian datanglah kabar cinta atas dunia, ketika Ayat-Ayat Cinta menjadi kisah di layar kaca. Entah nantinya, dari mata yang mana lagi air mata harus mengalir. Saya pastikan film ini akan sangat indah untuk dilihat. Film agama yang paling fenomenal setelah Fatahillah, atau bahkan di atasnya.

Teruslah berkarya mas.

Semoga kesabaran, ketabahan, cinta dan keikhlasan akan segera tertuntaskan...


.....dari saya, yang punya ruang cinta.....

Assalamu'alaykum...

Kadang kita tidak menyadari betapa indahnya dan berharganya milik kita,
Tapi, ketika melihat milik orang lain rasanya begitu sempurna.
Seperti kata pepatah, rumput tetangga selalu lebih hijau.

INDONESIA JUGA INDAH DAN EKSOTIS koq!

Go.. go.. go.. Indonesia!!

memang sih mas..rumput orang lain biasanya lebih indah dari rumput punya kita!!tapi dari keindahan tersebut, ada seni yang paling terpancar yaitu kepuasan batin....legowo!!

Assalamualaikum Wr. Wb

Mas Hanung...Keep fighting, inget God wouldn't bring you this far just to leave you alone..cobaan pasti selalu ada untuk hal-hal besar..Cisa yakin, film AAC is going to be so amazing and satisfiying...

Ganbatte Kudasai!

Wassalamualaikum Wr. Wb

Mas Hanung .. kasih response dong di review movieku tentang film Ayat² CInta .. di

http://deconlabel.com/2008/02/28/ayat-ayat-cinta-the-movie-my-review/

kali aja ada saran dan ide yang nyanthol .. :) thanks a lot

this new film good idea an romantisme

waaah ternyata di balik film ayat2 cinta dibutuhkan perjuangan yang rumit juga yaa. Gimana kalo itu dijadiin film jg? Kayanya seru juga tu, kan novelnya juga ada fenomena ayat2 cinta. Hehe. Oiaa kalo ga salah denger katanya ketika cinta bertasbih juga mau di filmkan ya?

Post a comment

Post a comment

Name:

You are currently signed in as .