« AYAT-AYAT CINTA | Main | CINTA »

NOVEL dan FILM


    Ini bukan pertama kali aku membuat film dari Novel.
    Sulit? Tentu saja. Bukan hal aneh ketika novel di filmkan pasti mengecewakan atau 'tidak sesuai ekspektasi pembaca', sekalipun ada juga film lebih bagus dari Novelnya. Bicara soal bagus mana antara Novel dengan Film, saya tertarik dengan ungkapan Andrea Hirata (Penulis Lasykar pelangi yang akan difilmkan oleh Riri Riza): 'Jika Filmnya nanti tidak sesuai dengan expectasi saya, maka yang saya pertanyakan justru ekspektasi saya.' Sering gambaran imajinasi kita saat membaca novel menjadi sebuah tuntutan atas visual yang tampak di layar film. Jika visual yang tampak tidak sesuai dengan gambaran imajinasi kita saat baca novel, maka kita kecewa. Secara tidak langsung kita membandingkan Novel dengan film. Padahal usaha membanding-bandingkan Novel dengan Film adalah tindakan kurang tepat. Kenapa? Karena Novel dan  Film adalah dua hal berbeda.
    Film adalah bahasa visual sedangkan Novel adalah bahasa tulis (baca: teks). Teks mampu membimbing imajinasi kita secara bebas, sedangkan visual memberikan bentuk ‘Nyata’. Teks juga mampu menggambarkan secara detil suasana hati, sudut lokasi secara berurutan berikut kiasan-kiasannya, juga memaparkan latar belakang persoalan secara berkelindan, meloncat ke masa silam atau mendadak menjamah masa depan seolah tanpa ada beban. Tapi visual, dengan sifatnya yang nyata, bukan berarti tidak mampu menggambarkan detil persoalan, suasana hati dan latar belakang, akan tetapi memiliki karakteristik yang berbeda. Kita bisa melihat teks yang dibuat Ayu Utami dalam Saman. Lomptan bahasa antara orang pertama, kedua dan ketiga dengan bebas Ayu mainkan yang mana belum tentu memiliki kekuatan sama ketika itu di visualkan. Pendeknya, membaca Novel dengan menonton Film adalah dua pengalaman yang berbeda.
    Dari pemahaman diatas, saya memiliki kepercayaan diri untuk kembali menerima tantangan memfilmkan sebuah Novel. Tepatnya, melakukan adaptasi (secara bebas) sebuah novel ke dalam Film.
    Hal pertama yang saya lakukan ketika membedah Novel Ayat-Ayat Cinta untuk dijadikan Film adalah memahami bahwa menonton Film berbeda dengan membaca Novel. Ketika membaca Novel, kita bisa melakukan interupsi, menghentikan sementara membaca novel dan dilanjutkan kembali dilain waktu. Tapi di film, tidak ada interupsi seperti itu. Ketika film diputar, penonton seperti penumpang sebuah kapal yang terbawa arus emosi cerita selama kurang lebih 2 jam. Karena itu hal terpenting ketika menuliskan scenario dari Novel adalah menentukan ‘Benang merah plot’, sehingga bisa disusun struktur dramatik film. Struktur dramatik menjadi ‘perahu’ bagi penonton. Jika dalam struktur dramatik terlihat kendor, maka seperti kapal yang tersendat lajunya. Oleh sebab itu susunan adegan dalam struktur dramatik menjadi penting untuk menjaga intensitas penonton mengikuti cerita. Dengan demikian Plot-plot yang tergambar di novel melalui bab-bab, tidak bisa dijadikan patokan secara mutlak untuk filmnya nanti. Disini saya dan Salman Aristo melakukan ‘seleksi’. Tidak semua adegan dalam novel muncul di Film. Ini bukan pekerjaan mudah. Habiburrahman (Penulis Novel Ayat-Ayat Cinta) secara teks cukup detil menggambarkan suasana hati, lokasi dan latar belakang tokoh utama. Teks yang ditulis Habib meluncur secara bebas. Sering saya menemukan deskripsi tentang kondisi kairo ditengah paragraph yang berisi adegan romantis antara Fahri dengan Maria. Atau tiba-tiba saja, muncul deskripsi latar belakang Fahri yang anak penjual tape ditengah paragraph yang menggambarkan pernikahan.
    Tentu saja scenario yang ditulis tidak semata-mata menuliskan seperti apa yang tertulis di novel. Kita mengurai adegan-adegan tersebut, kemudian kita kelompok-kelompokkan ke dalam sequence.  Setelah itu baru dipilih adegan mana yang bisa masuk di film, dan adegan mana yang tidak. Dalam merangkai scene-scene di scenario, tidak jarang saya dan Aris melakukan improvisasi, disamping membuang dan menyingkatnya. Upaya itu kami lakukan semata-mata untuk menutup ruang interupsi bagi penonton. Sebab jika ada celah untuk interupsi, maka film menjadi kendor irama dramatikanya.
    Tidak jarang scenario yang sudah kita sepakati bersama, kita rombak lagi dan kita ulang dari awal. Oleh sebab itu, mengadaptasi Novel ke Film lebih rumit daripada membuat film itu sendiri. Mengadaptasi Novel ke Film merupakan karya tersendiri yang terbebas dari karya novel itu sendiri. Sebab ketika teks dalam Novel sudah muncul berbentuk gambar, itu merupakan bagian dari proses kreatif penciptaan.

    Karena itu, masihkah kita membandingkan Novel dengan Film?

                            

Comments

Setuju Mas...! Film dan Novel punya dunia masing-masing....Hanung dan Habiburrahman ibarat dua Tuhan dengan wajah yang berbeda. Ini adalah pertarungan antara Grafitti Imaji vs Visual imaji, demi sebuah kemenangan bersama. Tabik!

ya, ya, ya..novel dan film emang beda. gak bisa nge-judge apple to apple. yg satu lemon, yg satu orange, hehehe..
oya, Mas Hanung, ngomong2 ttg mengadaptasi novel ke film, denger2 tadinya mau nge-direct "Kambing Jantan" nya Raditya Dika, tapi gak jadi yah? Padahal saya udah ngebayangin apa jadinya kalo di-direct mas Hanung. mengingat adaptasi 'Jomblo' ke sebuah film cukup lumayan, hehehe...

hehehe ... saya memang pernah ditawari men direct Kambing Jantan. Cukup unik sih. Tetapi over all sama seperti Jomblo. Aku sedikit kurang tertantang. Aku pengen beda. Sebenarnya pengen banget ngedirect 'SAMAN'

yah...

padahal buat fans kambing jantan sendiri
mungkin bisa akan melegakan nafas kalo mas hanung yang buat kambing jantan the movie..

hehe

Dear Mas Hanung, i just watched the movie last night. Syukran, kisah cinta yang indah. Thanks for making it beautiful.

hmm, aku pinjem URL image dari artikel ini yah, untuk review Ayat-ayat Cinta di Friendster-ku.

Good luck for the next movie.

good job guy's......

Ya, mas hanung benar! Anehnya, kenapa sampai sekarang saya masih berekspektasi bahwa sebuah film saduran harus mirip dengan novelnya. Padahal dulu saya pernah bilang kpd seorang teman bahwa novel justru membiarkan imajinasi saya berkelana ke dunia yang begitu luas sedangkan komik yang menyajikan visualisasi sebuah cerita malah mengukung imajinasi saya (langsung kabur karena takut digetok penggemar komik..he..he..)

Saya pikir kita harus belajar membiasakan diri bahwa film dan novel itu sama sekali tidak sama...

btw..mas hanung, saya mohon izin buat ngelink-in blog ini ke blog say, ya ?

Terima kasih

Ya, mas hanung benar! Anehnya, kenapa sampai sekarang saya masih berekspektasi bahwa sebuah film saduran harus mirip dengan novelnya. Padahal dulu saya pernah bilang kpd seorang teman bahwa novel justru membiarkan imajinasi saya berkelana ke dunia yang begitu luas sedangkan komik yang menyajikan visualisasi sebuah cerita malah mengukung imajinasi saya (langsung kabur karena takut digetok penggemar komik..he..he..)

Saya pikir kita harus belajar membiasakan diri bahwa film dan novel itu sama sekali tidak sama...

btw..mas hanung, saya mohon izin buat ngelink-in blog ini ke blog say, ya ?

Terima kasih

Mas Hanung..saya yakin filmnya bagus dan penulis skenarionya sangat berbakat..

Ayat ayat Cinta tuch bagus banget yaa walaupun aku belum baca Novelnya........ OK???

MAs Hanung aku tunggu KETIKA CINTA BERTASBIH juga di buat film nya

mas hanung aku sangat menyukai novel maupun film AAC, soalnya stelah aku baca novel itu hati aku jd lbh tenang dari yang sebelumnya...

makasih ya mas dah menulis novel sebagus itu.

baaaaaaaaguuuuuuuuusssss

ayat-ayat cinta sbuah karya film yang sangatt menyentuh haty,,,
bkin terharu...
hiks,,hiks,,

salut sm mas hanung!!

nvl dan film emg beda..... tp g hrs mengubah jalan crtnya kan??? aq ngeliat bag akhir film aac beda bgt ma novelnya....stlh jd saksi d p'sidangan maria kan hrsnya msk rmh skt, tp d film kok ga??? malah sempet serumah ma fahri n aisha. mnrt aq, film kan hrsnya m'jd media untuk lebih m'perjelas novelnya, bknnya mengubah isinya jd versi baru....
trus...d film aisha kyknya egois...klu fahrinya kyknya kok melempem bgt y??? (sori mas hanung, tp mmg ini yag aq rasakan saat nntn film ini)

novel ke film itu kan ekranisasi ya kan mas??? jadi kalo ada pengurangan dan penambahan itu wajar aja, tapi AAC kurang lebihnya trima kasih dah bisa jadi media dakwah hehe. truzz semangaaaaaaat ya mas. good luck for u!!!

Askm Mas hnung Slam Knal dri Hmba Allah yg lmah tiada berdaya dhadapanNya ini. Q sgat smpatik n terksan dg karya Mas Hnung yg terbru ni. Q sgat stju dg Psan Ibu antm "kalau kamu sudah bisa membuat film, buatlah film tentang agamamu ISLAM" kni sdh terbkt ucpn doa dr ibu antm. n Mlalui prjwgn pnjg Dia mmbrkan hasl yg sgnifkan. Trskn krya2 antm tk brdkwh d jlnNya dg Movie terbru. Q salut am Ibu antm n jg prbdi antm sndri. Sukses Sllu Maz...Barakallah fiikum.Amin.

Askm...
mas batasan film adaptasi apa?

Mas Hanung,
setuju,novel dan film tidak bisa disamakan. Novel Get Married harusnya tidak ada saja... sehingga kita bisa total menonton dan menikmati filmnya. Kenapa dibukukan ya mas?

Post a comment

Post a comment

Name:

You are currently signed in as .