CINTA
Waktu itu jam 7 malam ketika aku berangkat dari rumah dengan motor.
Tahun 1993 akhir, cuaca di Yogya tidak sepanas sekarang. Apalagi curah
hujan masih stabil. Malam itu benar-benar dingin. Dengan jaket jeans
belel favoritku, aku lindungi tubuhku dari angin malam, menuju rumah N
di Jl Kaliurang.
'Aku tunggu jam 8 di rumah. Bapakku tidak
ada. Pengajian. Lebih dari jam itu kita bakal gak bebas ketemuan.' kata
N siang itu sepulang sekolah.
‘Aku pengen lebih lama dari itu.’
‘Berarti kamu gak ngerti kondisiku.’
‘Yeah, I Know!’
Ayah N seorang tokoh agama terpandang di Yogya. Buat ayah N, pacaran itu dosa.
‘Manusia gurun!’ Kataku dalam hati.
Tiba-tiba hujan deras datang memecah lamunanku. Awalnya aku bermaksud
berhenti. Tp kepalang tanggung karena sudah terlanjur basah. Malam yang
dingin menjadi semakin dingin sekarang. Aku rasakan bibirku mulai
bergetar. Stupid! pikirku. Hujan. Cewek. Backstreet. Cinta! Cinta! Shit!
'kenapa kamu datang kalau hujan begini?' kata N sambil menyeka kepalaku dengan handuk.
'Aku janji mau datang. Apapun keadaannya.'
'Kamu emang dramatis. Dasar Aktor.'
N terus menatapku. Senyumnya mengembang. Aku beranikan diri mencium
pipinya. Dia diam saja. Tapi kemudian setelah kurasakan, dia tidak
sekedar diam saja.
Malam itu kami lepaskan semuanya. Bersama.
***
'Aku senang bisa makan bakso di sini sama kamu setelah lulus.' Kata D.
'Aku juga.' Jawabku.
'Bohong!'
'Sumpah. Aku selalu ngebayangin makan bakso disini sama kamu seperti dulu saat kita masih SMA.'
'Gombal! dasar Aktor!'
'Beneran. Swear!'
'N masih sering telp?'
'Gak pernah. Pas kita masih pacaran juga gak pernah. Dia selalu minta di telp.'
'Tidak seperti aku ya. Selalu telp kamu. Malah datang ke tempatmu.'
'Itu kelebihanmu dibanding dia.'
'Kamu gak anggap kalau itu murahan?'
‘Sama sekali tidak! Aku justru hormat sama kamu.'
'Masa sih. Aku ngerasa terlalu agresif.'
'Kamu baik. Tulus. Jujur. Apa adanya. Tidak seperti N. Selalu menganggap dirinya harus dihargai.'
'Tapi kamu cinta sama dia, kan?'
'Dulu. Aku sekarang mengharap bisa pacaran sama cewek seperti kamu.'
‘Wah, telat!'
'Kenapa sih kamu mau pacaran sama Z?'
'karena kamu balik lagi sama N.'
'Sekarang aku udah putus lagi sama N. Tapi kamu masih pacaran ama Z.'
'Aku bisa putusin Z buat kamu?'
'Jangan, Jangan. Z temen ku juga soalnya.'
'Dia selalu cemburu kalau aku bicara soal kamu.'
'Ngapain kamu bicara soal aku di depan dia.'
'Biar dia bertingkah seperti kamu.'
'Kamu gila.'
'Kamu yang membuat aku gila.'
Entah kenapa tidak hanya sate kambing yang membuat gairahku bangkit.
Semula aku pikir dia bercanda ‘mengajak’ ku. Tapi ternyata sentuhan itu
begitu jujur. Dan sore itu kamarku kembali menjadi saksi.
***
Sepucuk surat aku terima. Awal 1995 yang bergairah. Setelah aku baca
alamat pengirim dari Melbourne, baru aku sadar surat ini dari siapa.
Aku buka segera dan kubaca:
'Sungguh, aku terkejut mendengar
kabar bahwa kamu memutuskan untuk keluar dari Kuliahmu di teknik dan
lebih serius diteater. Menjadi seorang aktor, katamu. Aku pikir,
setelah aku memutuskan hubungan dengan Z, aku bisa meletakkan masa
depanku kepadamu. Bahkan sampai aku harus sekolah di luar negeri
semata-mata untuk masa depan kita. Maafkan aku. Aku keberatan. Aku
tidak ingin kamu menjadi seniman. Buatku, terlalu besar pertaruhannya
di masa depan. Mungkin aku terlalu egois. Tapi itu keputusanku.
Barangkali dengan berpisah, kita berdua justru saling menghargai.
Salam. D'
****
'kok masih ada ya perempuan seperti
itu?' Kata E yang saat itu telanjang di pelukanku. Sore itu hujan.
Cuaca di akhir tahun 1995 mulai tidak stabil.
'Gak tau. Mungkin emang gak jodoh.' Jawabku sekenanya sambil memainkan jariku disela-sela payudaranya.
'Kalau aku bersikap begitu gimana?'
'kamu pernah bilang ke aku kalau teater itu hidup kamu.'
'Sebenarnya masih ragu juga sih.'
'Seenggaknya kamu tidak menganggap seniman itu punya masa depan buruk. Seperti anggapan D.'
'Aku pernah beranggapan begitu loh. Sering malah.'
'Trus kenapa kamu mau pacaran sama aku?'
'Gak tau ya. Kamu cute sih. Gak kayak anak-anak teater lainnya.'
'Gombal! Cewek tidak ditakdirkan buat ngegombal!'
‘Terus ditakdirkan buat apa?' E mengubah posisinya diatasku, menempelkan pahanya di selangkanganku dan menggesek-geseknya.
aku cuma tersenyum. Dia pandai membuat gairahku bangkit. Padahal itu
sudah putaran ketiga. Kami bercinta lagi. 3 jam kemudian aku sudah
berada di atas panggung, memainkan drama Rusia.
***
Tok! Tok! Tok!
Pintu kamarku aku buka. Saat itu tidak bisa aku sembunyikan keterkejutanku melihat siapa yang datang.
‘D?’
Dia tersenyum. 10 bulan tidak bertemu, sikapnya tidak berobah kecuali kenyataan bahwa dia bertambah cantik.
‘Boleh aku masuk?’
Benar-benar seperti dulu. Lugu, jujur, apa adanya.
‘Maaf kalau aku bikin kaget kamu.’
Aku diam saja. Tidak tahu harus berbuat apa.
‘Aku tahu kamu marah sama aku. Tapi aku gak peduli. Aku ngerti kok.’
Sialan! Dia membuat aku benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa. luar biasa!
‘Aku mau minta maaf. Aku salah. Seharusnya aku tidak bicara begitu ke
kamu sekalipun lewat surat. Aku bodoh. Aku minta kamu bisa maafin aku.’
Sampai sekitar 15 menit setelah dia mengakhiri bicaranya, aku tetap tidak bisa berbuat apa-apa.
***
Kriiiing! Kriiiing! Kriiiiiiiiiiiiinggg!!!
‘Kenapa tidak kau angkat’ Tanya D sambil merobah posisi tidurnya
disampingku. Kulitnya masih seperti dulu. Kuning gading dengan
bulu-bulu tipis di bagian paha atas.
‘Males.’
‘Siapa tahu itu E.’
‘Dia udah dapat jatahnya semalem hehehe.’
Terlihat D tersenyum pahit. Aku tiba-tiba sadar kalau itu bukan sekedar gurauan buat dia.
‘Maaf.’ Kucium keningnya dengan lembut.
‘Gak apa-apa. Aku ngerti kok. aku anggap ini sebagai hukumanku.’
‘Kamu gak salah kok.’
‘Aku salah. Seandainya aku tidak menulis surat itu, tentunya aku sudah bisa memiliki kamu seutuhnya.’
Aku mengusap rambutnya yang wangi. Tuhanku! Bau itu! Yeah, Bau yang tidak dimiliki siapapun. Juga N. Juga E …
‘Lusa aku berangkat ke Melbourne lagi.’
‘Aku pengen kamu disini terus. Kalau kamu jauh, kamu pasti lupa sama aku.’
‘Tidak. Aku janji! Tapi percuma. Kamu pasti lupa sama aku karena kamu ada yang lain.’
‘Sekalipun ada yang lain, tapi kamu beda. Itu yang tak bisa aku lupa.’
D tersenyum. Terbayang deru pesawat meninggalkan bandara Adisucipto, membawanya menembus langit dan tak akan kembali lagi.
***
Nafas itu kembali memburu. Sprei-sprei kembali basah oleh keringat.
Acak-acakan. Rintihan kecil. Tertahan. Lalu lenguhan. Saling tumpang
tindih. Seperempat jam kemudian keheningan tampak.
‘Terima kasih ya.’ Suara R keluar di sela-sela desah kecapaian. Tangannya mengusap dadaku perlahan.
‘Terima kasih Buat apa?’
‘Seenggaknya aku gak akan bunuh diri lagi.’
Aku tercenung …..
Tiba-tiba teringat suara tangis itu. Tangis seorang anak kecil umur 4
tahun. Keras. Melengking. Lalu gedoran pintu yang keras. Karena tidak
dibuka pintu didobrak oleh dua orang lelaki. Mereka tetangga samping
rumah yang biasa dimintai tolong oleh R. Dibalik pintu yang sudah roboh
itu R tergeletak tak sadar. Bau Baygon menyengat. Aku semakin panik.
‘Suaminya dimana?’ Tanyaku
Dua orang itu menggeleng sambil membawa tubuh R keluar rumah. Setengah
jam kemudian, R sudah berada di atas brankar menuju UGD.
R selamat ….
‘Kamu emang gila! Nekad! Dan konyol!’ Kataku kemudian.
‘Aku udah putus asa. Aku tidak bisa sendirian. Dia punya selingkuhan. Aku dibiarin aja. Tidak ada alasan buatku untuk hidup’
‘Anakmu gimana?’
‘yaa, pada awalnya cuma dia yang bisa bikin aku terus hidup. Tapi lama-lama aku menyerah. Tapi sekarang sudah ada kamu.’
R membalikkan tubuhnya yang telanjang menghadapku. Sekali lagi dia mencium bibirku.
‘Sekarang apa bedanya kamu sama suamimu?’
‘Biarin aja! Aku juga manusia!’
Aku menatap langit-langit kamarnya. Putih dengan noda-noda hitam. Noda
itu menjadi memudar ketika aku menyipitkan mataku. Seolah warna putih
itu menjadi bersih. Aku tersenyum sendiri.
‘Makasih sekali lagi.’
***
‘N?’ Nyaris saja aku berteriak.
‘Kemana saja kamu?’
Suaranya tidak berubah sejak lulus SMA. Begitu juga matanya. Selalu melihat kiri kanan. Seperti dulu takut terlihat ayahnya.
‘Aku … disini saja.’
‘Aku sering melihat mukamu di koran. Di poster-poster pentas. Tapi aku selalu tidak pernah bisa menonton.’
‘Kamu sama siapa?’
‘Sendirian. Pacarmu siapa?’
‘Pacar? Tidak ada.’
‘Mana mungkin laki-laki kayak kamu tidak punya pacar.’
‘Apa aku terlihat lelaki aneh jika tidak punya pacar?’
‘Iya.’
‘Berarti kamu tidak tahu aku.’
‘Oh ya?’
‘Pacarmu siapa?’
‘Sedang tidak sama aku.’
‘Akhirnya kamu bisa temukan laki-laki yang pas buat kamu. Juga buat ayahmu’
‘Begitu ya?’
‘Iya.’
‘Berarti kamu tidak tahu aku.’
Aku tercenung. Mataku dan matanya beradu. Ada serangkaian kata yang
terbaca di matanya. Bukan! Bukan hanya sekedar kata! Tapi seperti
pekikan. Ya! Dia memekik. Kencang sekali. Sore itu, aku tunda latihanku
dan pergi bersamanya ke suatu tempat. Ke Selatan.
***
Aaaah!!!
‘Kenapa?’ Tanya E
‘Aku … Tidak apa-apa.’
‘Sudah tiga kali aku lihat kamu bangun tiba-tiba. Kenapa?’
‘Tidak apa-apa. Cuma mimpi’
***
‘Aku sayang kamu. Aku ingin kawin sama kamu.’ Kata D
‘Pulanglah. Tinggalkan Melbourne.’
‘Tidak bisa. Masih satu semester lagi.’
‘Sebentar saja. 3 hari. Aku yang bayar. Kemaren aku sempat main sinetron produksi Jakarta. Bayarannya lumayan.’
‘Tidak bisa, sayang.’
***
Aahh!!!
‘Lagi, sayang!’ Desah R
Aaaaaahhh!!!
‘Lag … gi!!!’
Aaahh!!!
‘Makasih, sayang.’
***
‘Kenapa kamu tidak pernah menelponku?’ Tanya N
‘Kenapa tidak kamu yang menelponku?’
‘Kamu tahu kalau aku tidak bisa.’
‘kenapa? Karena ayahmu?’
‘Ya.’
‘Sampai sebegitunya ayahmu memperlakukan kamu?’
‘begitulah ayahku. Begitu juga aku.’
***
‘Kita bakal kawin?’ Tanya E tiba-tiba
‘Menurutmu perlu?’
‘Sepertinya perlu.’
‘Kenapa sepertinya?’
‘Karena budaya yang membuat seperti itu.’
‘Begitu ya?’
***
‘Aaaahhhh!!!!’
‘Aaaaaaaaahhhhh!!!!’
****
‘Sayang … sayang … bangun’
‘Sayang … kenapa kamu? Aku sudah disini. Dari Melbourne langsung kesini. Ketempatmu. Bangun.’
‘Sayang … aku gak peduli ayahku melarangku. Aku tetap mau kemari. Melihatmu. Bangun … Bangun sayang’
‘Kapan kita bisa latihan teater lagi? Lalu setelah itu kita
jalan-jalan. Tidur dikasur yang sama. Lalu ngobrol soal seni, politik,
dan cinta. Bangun … bangun, sayang.’
‘Sayangku, sayangku, jangan tinggalin aku. Suamiku sudah lama ninggalin aku. Aku tidak mau kamu tinggalin aku. Bangun …’
****
Desir udara. Gelap pekat. Hambar bau menyergap. Tak bermakna. Tak
berarti apa-apa. Aku melayang-layang disana. Tak ada sayap yang
menopang angin. Pun juga tali yang menarik. Tapi aku tetap melayang.
Cinta? Apa itu Cinta? Kudengar suara-suara itu sekarang. Sambil kurasa
tubuhku mulai membeku. Cinta yang orang sering sebutkan itu, menjadi
penjaraku sekarang. Membawaku berada dalam ruang penuh jeruji sekaligus
tembok tebal menghadang.
Cinta? Apakah itu?
Hanya suara
angin semilir yang ku dengar. Tidak merdu seperti dalam film-film
Amerika yang menggambarkan adegan orang lagi mabuk kepayang. Juga tidak
ada musik mengalun. Hanya angin … angin yang hambar.
Jakarta-Bangkok, 29 September 2007

Hiii.. menakutkan.
Posted by: KaRin | September 29, 2007 02:44 AM
KEREN
Posted by: Novie | September 30, 2007 04:40 AM
atau... mungkin itu bukan angin, tapi perasaan seperti every part of me goes in different directions... as if the one i love is everywhere?
tidak hambar. sayang sekali kalau hambar.
Posted by: N | October 7, 2007 03:09 AM
yang ini sanagat indah:
http://www.littlepersia.se/flash/beginning.html
sajaknya rumi. aku suka, membuatku tangis karena beauty nya, tidak pernah hambar...
Posted by: N | October 7, 2007 03:30 AM
haru aku membacanya.... cinta? pikiranku berkecamuk dengar kata cinta. Masih adakah hari ini cinta sejati yang tulus penuh kasih sayang tanpa tendensi ataupun nafsu2 birahi? hehehehe.... menarik juga ya... yuk diskusi yuk....
Posted by: Ririt | November 11, 2007 07:20 PM
Cinta... just feel it...
Posted by: MoSLeh | December 23, 2007 01:24 AM
Love changes everything... Love is a many splendored thing... I just still believe it...
Love n Best Wishes,
eva h yusnita
Posted by: eva h yusnita | December 28, 2007 06:01 PM
GILA.......gmana bisa bikin cerita yang kaya gitu .........GILA..........ajarin ya.......
http://pramartya.wordpress.com/
Posted by: Arie | December 30, 2007 08:16 PM
it wasnt love.. it was lust!!
Posted by: HeLdie | February 17, 2008 07:58 PM
what it love? masih merenungi.....
Posted by: ditya | February 18, 2008 04:37 AM
JUST ME & MY IMAGINATION U KNOW IT...! NICE..
Posted by: iwan | February 27, 2008 07:54 PM
i think it must be your own...
Posted by: Risa | March 2, 2008 02:33 AM
love itsn't love when you used lust in it.
Posted by: iiiIIInntaan | March 7, 2008 02:29 AM
No matter what people have said... sounds like reality to me... Play around and suddenly we've trapped in our own playground... :)
Posted by: MaRezQa | March 12, 2008 04:15 PM
nung, skrng udah jadi sutradara besar yak, apalagi sukses film AAC nya, smoga elo gk lupa ama gw, tmn kuliah lo dl di Yogya, gw jg skrng di jkt. no. hp elo brp nung. - ibnu noe-
email: martowiyoto@yahoo.com
Posted by: ibnu | March 12, 2008 10:55 PM
tu beneran kisahnya mas Hanung??
sereem banget
Posted by: nthan | May 8, 2008 09:36 PM
kenapa cinta selalu berkonotasi ke sana?
setelah atau sebelum ayat-ayat cinta pun, cinta itu indah tanpa menyentuh.
ampun.siapa sih aku ini.
Posted by: Windy | June 6, 2008 09:05 AM
Wow..asyik,...
Kisah beneran tuh.Nikmatilah cinta, karena cinta itu anugerah...
Posted by: navi | June 18, 2008 07:24 AM
CINTA...
Cinta bagi seorang Hanung???
Mas Hanung, Salam Kenal
Jangan pernah merasa kehilangan kalau kita tidak pernah memilikinya!!!
Posted by: ASRI | July 23, 2008 08:42 PM
Mas Hanung
Kapan main ke Unnes (Universitas Negeri Semarang)
kami dari LabJurnalistik FBS Unnes menunggu jawaban
asri_unnes@yahoo.co.id
Posted by: ASRI | July 23, 2008 08:46 PM
perfect
Posted by: Ange Demoniaque | July 26, 2008 09:09 AM