« PERCAKAPAN | Main | WORKSHOP »

INI BUKAN (sekedar) PENJIPLAKAN!!!

    Hentikan perdebatan soal jiplak menjiplak sebuah karya. Beberapa media telah mencatat pengembalian piala Citra di Taman Ismail marjuki, awal tahun 2007, oleh Masyarakat Film Indonesia (MFI) sebagai sebuah bentuk protes atas film terbaik Festival Film Indonesia (FFI) 2006, Eskul, yang dianggap menjiplak karya film lain. Hasil pemberitaan tersebut membuat bias yang mengakibatkan masyarakat menganggap protes tersebut sebagai tindakan kekanak-kanakan, gegabah, tidak bersahaja dan mencorengkan citra perfilman Nasional yang sedang bangkit ini.
     Perlu digaris bawahi, bahwa protes tersebut bukan semata-mata penjiplakan. Penjiplakan alias plagiatisme (plagiarism) merupakan aktifitas menggunakan karya seseorang (using someone else’s work) tanpa mencantumkan nama pencipta aslinya. Biasanya hal ini muncul dalam lingkup akademi. Suatu contoh, seorang siswa menggunakan karya shakespeaer baik itu untuk karya tulis (sastra), film maupun TV, tanpa mencantumkan nama Shakespeare didalamnya, sudah dianggap tindakan plagiat. Sekalipun karya-karya Shakespeare termasuk karya yang sudah menjadi milik public (public domain). Jadi dalam hal ini pengertian penjiplakan tidak bisa dimaknai sebagai kemiripan. Apalagi adaptasi. film Departed (2006) sutradara Martin scorcese yang merupakan bentuk klarya adaptasi dari Mou Gaan Dou (Infernal Affairs-2002) sutradara Wai Keung Lau-Siu Fai Mak tidak bisa dibilang penjiplakan alias plagiatisme. Juga tayangan-tayangan sinetron yang memiliki ‘kemiripan’ dengan serial Hongkong, India ataupun Korea tidak bisa dibilang menjiplak, karena produser membayar hak cipta tersebut. Menuduh karya menjiplak, plagiat, membutuhkan kehati-hatian.
    Jika bukan penjiplakan, lantas apa? 
    Sejak saya menyaksikan film Eskul jauh sebelum FFI 2006 diselenggarakan, saya sudah menangkap adanya Pelanggaran hak cipta (Copyright Infringement) dalam film tersebut. Berbeda dengan plagiarism, dalam pelanggaran hak cipta ditekankan soal karya yang sudah di patenkan (copyrighted). Karya-karya tersebut bisa dalam betuk buku, novel, esai, web page, lagu, film maupun video yang secara resmi sudah di berikan legalitas hak paten. Jadi ketika seseorang menggunakan karya tersebut tanpa ijin dari pemegang hak paten, maka tindakan tersebut merupakan sebuah pelanggaran hak cipta. Film Eskul produksi Indika Entertainment, menurut saya, telah mengambil music scorring beberapa film Hollywood dan Korea yang sangat terkenal. Diantaranya adalah Gladiator (Universal Pictures), Born Supremacy (Universal Pictures), Taeguki (Kang Je-Kyu Film). Beberapa film tersebut beredar di bioskop 21 dan sudah tersedia dalam bentuk DVD dan VCDnya. Kira-kira dua minggu setelah tuntutan MFI dibacakan, pihak Universal Music sudah melayangkan surat somasi kepada PT Indika yang berarti sudah adanya kejelasan soal pelanggaran hak cipta tertsebut. Jadi ini bukan sekedar penjiplakan, apalagi mirip, sama persis ataupun adaptasi.
    Penggunaan scoring music dari film lain, oleh beberapa film editor memang menjadi bagian dari proses kreatif suatu produksi film. ketika editor melakukan off line editing biasanya memakai music scoring film lain seperti Gladiator, Narnia, Taeguki, Born Supremacy, Black Hawk Down dan sebagainya, sebagai guidance. Musik tersebut disamping turut andil dalam menentukan ritme film, juga sebagai reference bagi penata musik (music director) dalam melakukan kerjanya. Setelah sutradara dan producer menetapkan final edit, music tersebut dicabut dan diganti dengan komposisi dari penata musik yang sudah ditunjuk. Keterlibatan penata musik tidak sekedar mencontoh music reference tetapi membangun suasana (mood ) dan memberikan value pada setiap scene lewat kemampuannya memilih instrument yang pas. Tan Dun cukup menggunakan satu instrument Cello saja untuk memberi value pada adegan penculikan putri Jen Yu (Yiyi Zhang) dalam film Crouching Tiger Hidden Dragon (Ang Lee). Toru Takemitsu hanya menampilkan suara seruling panjang pada adegan cukup menegangkan saat tiga bersaudara Saburo (Daijuke Ryu), Jiro (Jinpachi Nezu), dan Taro (Akira Terao) saling berperang dalam film RAN (Akira Kurosawa). Bahkan dalam film-film Frederico Fellini (Italia) sering ditemui musik-musik aneh, seperti gamelan Bali dalam film bernuansa Romawi kuno berjudul Satricon. Hal itu memberi gambaran penata musik sebuah film secara professional memiliki andil besar menentukan eksistensi film tersebut. Oleh sebab itu wajar jika di sebuah ajang festival film posisi penata musik mendapatkan penghargaan tersendiri. Termasuk Festival Film Indonesia itu sendiri.
    Akan tetapi, Jika perhelatan akbar dan bergengsi seperti FFI menganugerahi gelar terbaik terhadap sebuah karya yang didalamnya terdapat unsur pelanggaran hak cipta: ‘Mencomot’ dan ‘tidak mencipta secara kreatif’; maka sama saja FFI tidak memberikan penghargaan kepada profesionalisme. Jika begitu, tidak perlu lagi ‘kreatifitas’ dalam membuat film, karena ‘mencomot‘ dianggap yang terbaik bagi negeri ini (mengingat FFI mencantumkan nama ‘Indonesia’ untuk menekankan eksistensi Festival Filmnya).
    Tentunya hal ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. FFI bukan Festival yang exist dalam 2 tahun ini, melainkan sudah menjadi bagian dari sejarah perfilman Nasional. Terlepas dari segala kekurangannya, FFI dicatat pernah melahirkan sineas besar seperi Usmar Ismail, Syumanjaya, Teguh Karya, Slamet Raharjo, Idris Sardi, Christine Hakim, Yenny Rachman, Alex Komang, Garin Nugroho, dan sederet nama besar sineas Indonesia lainnya. Karena itu FFI seharusnya menjadi tolak ukur bagi masyarakat dalam mengapresiasi film Nasional. Bukan justru sebaliknya. Apapun dalihnya, penganugerahan gelar Film Terbaik kepada Eskul, telah mencorengkan profesionalisme yang telah dibangun sejak era Usmar Ismail hingga sekarang.
    Oleh sebab itu di salah satu clousure pernyataan sikap MFI, menuntut kepada penyelenggara FFI 2006 untuk mencabut gelar tersebut. Tuntutan pencabutan itu sangat penting, pertama, mendudukkan kembali citra FFI menjadi sebuah event yang benar-benar menghargai kreatifitas dan profesionalisme film Indonesia, sekaligus menjadi tolak ukur apresiasi film bagi masyarakat Indonesia. Kedua, memberikan wacana kepada masyarakat (dan juga sineas) bahwa kreatifitas dan profesionalisme merupakan pijakan yang harus dijunjung tinggi dalam memproduksi sebuah film. Karena film adalah sebuah produk budaya yang di dalamnya tidak hanya estetika yang diolah, tetapi juga wacana membangun pendidikan multikultur, menanamkan demokratisasi dalam berfikir, berbicara dan bertindak. Karena itu sebuah pelanggaran hak cipta dalam proses kreatif sebuah film menjadi sebuah Noda. Sekali lagi, Ini bukan sekedar penjiplakan. Ini sebuah pelanggaran hak cipta! Cabut gelar itu. Lindungi profesionalisme dan kreatifitas!

                            

Comments

Saya memang masih sangat muda dan pastinya masih sangat belia dalam pembicaraan mengenai FFI, dan persoalan yg sedang dialami, yaitu mengenai "Penjiplakan Karya", namun sebagai belia yg menyenangi film saya bukan ingin mencari muka di mata siapapun juga, saya hanya ingin memberikan sebuah comments dimana saya memposisikan sebagai pencinta film itu sendiri, dan saya yakin saudara Hanung B. membuka wadah komentar ini bukan semata-mata mencari pembelaan, tapi lebih pada sebuah kesadaran sebagai Film Maker akan artinya sebuah Hak Paten dalam hal ini Film.
* Saya sependapat dengan saudara Hanung Bramantyo yg sangat menjunjung sikap profesionalisme dan kretifitas sebuah karya serta mengharamkan "Penjiplakan" karya film yg di dalamnya beragam bentuknya termasuk musik scoring.
*Saya heran dalam kasus yang sangat mencoreng wajah karya film anak bangsa ini, mengapa para juri2 FFI itu sepertinya tdk memiliki kesadaran akan pentingnya sebuah hak paten. Apakah mereka juga selama ini sering melakukan pelanggaran hak paten ? Atau mereka sengaja membutakan mata serta menulikan telinganya, dan mungkin lebih parah lagi membekukan perasaannya, seolah-olah tdk terjadi suatu pelanggaran apapun, padahal Film adalah wujud dari sebuah Rasa bukan ? Para Juri yg seolah dengan jumawanya memberikan sebuah nilai, dan seakan-akan bahwa dialah Dewa penentu dimana pilihan terbaik dari sebuah Film ada di tangannya. Tapi yg terjadi adalah sebuah kesalahan BESAR !!! Dimana para Dewan Juri FFI 2006 telah menganugrahi film Eskul sebagai Film Terbaik 2006, padahal di dalamnya terdapat sebuah pelanggaran Hak Cipta (Penjiplakan). Sungguh sangat memalukan !!! FFI 2006 telah tercoreng Wajahnya....
* Namun hal-hal memalukan terus bermunculan satu demi satu seusai ajang FFI. Para Dewan Juri yg terhormat itu bukannya menyadari kesalahannya, namun justru sebaliknya, mereka malah merasa di permalukan dengan sikap MFI dan bersikap tdk menerima atas segala tudingan yg mengarah ke mereka, yang sikapnya dapat kita lihat sendiri pada banyak media infotainment.
* Sungguh sangat disayangkan, kenapa hasil dari ajang FFI 2006 bukan membuahkan semangat baru bagi insan perfilaman nasional namun justru menimbulkan perseteruan yang di sebabkan oleh orang2 yg telah membunuh sikap profesionalisme dan kreatifitas, serta menjunjung tinggi Penjiplakan, mungkin ini adalah suara hati mereka saat menjadi Dewan Juri " Hidup Penjiplakan !!! "
* Stop pelanggaran Hak Cipta dan mari kita serukan Jayalah Perfilaman Tanah Air Indonesia !!!

Setelah saya membaca ulang INI BUKAN [sekedar] PENJIPLAKAN, saya ingin meluruskan soal comments saya mengenai kata-kata yg saya tulis mengenai PENJIPLAKAN, tapi lebih tepatnya adalah seperti yg sudah mas Hanung Bramantyo jelaskan yaitu lebih tepatnya pelanggaran Hak Cipta ( mencomot ). Jadi mohon maaf apabila saya sedikit keluar dari apa yg telah mas Hanung Bramantyo maksudkan. Thanx...

memang Indonesia sebagian besar sudah mengikuti "budaya" jiplak-menjiplak.hal ini juga benar2 terasa di bangku kuliah dimana dalam pembuatan laporan praktikum mencontek milik senior.
Tentunya lambat laun semua orang akan merasa nyaman dan tanpa dosa melakukan kegiatan plagiat itu.karena sudah dibiasakan dari dulu.
pernah saya dengar dari tv, bahwa Mr.shanker, mengatakan tidak tahu-menahu mengenai scoring itu sendiri. Itulah salahnya dia. kalau menyuruh orang, harus diteliti dong....
atau jangan2 dia tau tapi sudah menganggap halal apa yang terjadi...
sekali lagi, hilangkan budaya menjiplak sedari dini...
keren banget atas insan perfilman indonesia kini, karne begitu peka terhadap kualitas film-film yang dihasilkan kini....
salut buat Mr.Hanung dan kawan-kawan..
Terus berkarya tanpa penjiplakan.

Saya sangat suka film produk dalam negeri termasuk filmnya mas Hanung spt; CAS, Brownies, Jomblo, Lentera Merah dan masih menunggu Idolanya. Dan seperti saya menonton film indo yang lain saya merasa nikmat bisa menikmati karya rumah sendiri. Ketika saya menonton Eskul memang ada gregetnya berbeda dengan yang lain (sebelum tahu bahwa music scorringnya mencomot punya orang lain) bagus meski agak berlebihan adegannya.

Dan bagaimanapun saya juga tidak setuju mengambil milik orang lain, dosa kata ibuku.

Tapi yang pasti buat Mas Hanung tetap pada jalannya gak usah ikut mencomot milik orang lain. Biar Tetap MAju Film Kita, dan katanya juga mau bikin film dengan tema sejarah kita G30S/PKI mudah2an bisa membuka mata kita tentang sejarah yang benar.

Salam 7.

Karena saya pecinta film yang orang hukum, maka saya sedikit menilik kasus ini dari aspek hukumnya. menurut saya kasus ini terjadi karena masih lemahnya pengaturan perundangan mengenai perlindungan hak cipta, khususnya dalam hal sinematografi.Dalam UU No.19
Tahun 2002 tentang Hak Cipta (”UUHC”) itu seakan
kurang jelas mengatur dan sulit digunakan untuk
melihat keadilan dalam kasus tersebut. UUHC hanya
menyebutkan (i) karya sinematografi sebagai suatu
Ciptaan yang dilindungi (pasal 12 butir k), (ii)
menyebutkan adanya hak rental dari si pencipta atas
karya sinematografi tersebut (pasal 2), (iii) jangka
waktu perlindungan selama 50 tahun (ps.30) dan (iv)
hak cipta atas pengalihwujudan dari novel ke film
(pasal 12 butir l). karena ketidakjelasan tersebut, akan menimbulkan semacam "ketidakpedulian" saat seseorang melakukan pelanggaran hak cipta. karena saat terjadi pelanggaran hak cipta, pembuktiaannyapun masih rumit dan relatif sehingga banyak celah yang dapat digunakan oleh pelanggar hak cipta untuk menghindar dari tanggungjawab. Saat ini yang bisa diharapkan hanyalah semoga para para sineas, produser dan penikmat film mendengarkan hati nuraninya, karena bagaimanapun dan apapun suatu bentuk karya patut mendapatkan penghargaan dengan sepantasnya. bukan hanya secara materi, namun juga penghargaan secara moral dengan tidak menjiplak, meproduksi karya bajakan dan menonton film bajakan.
btw, kemarin sempat seneng dengan perkembangan film indonesia yang dan bagus banget. tapi kok sekarang bioskop isinya horor melulu!
PEMBODOHAN MASSAL RAKYAT INDONESIA!!!!!!
pulang dari bioskop yang didapat NOTHING!!!! cuma jadi tambah GOBLOK!!!

asalamualaikum.. Mas, kalo filmnya bisa mnyadarkan, mmbuat pemirsanya makin dekat dgn kebahagiaan (Allah..), dan semuanya beramal iikhlas utk harap ampunan dn ridho Allah, luarbiasa bangeet.. Yang mngajak kpd kebahagiaan& kebaikan akan mdpt apa yg didapat oleh org yg terAjak..
God bless U,,
assalamualaikum

Mas Hanung...selamat anda telah membuat film yg sangat menyentuh hati,perasaan...juga iman..juga mengingatkan bahwa Allah adalah segalanya...btw..di dunia banyak kisah cinta yg kadang kita sendiri tidak bisa menghindari...walaupun dosa ...tetap aja kita jalani...seperti yg saya alamai..cinta beda agama,beda status ekonomi,beda suku,parahnya beda status...status married n single...OMG..saat ini cuma aku jalani berdasarkan feeling saja...aku masi menutup mata untuk jalani dengan logika.hehehhehe...kayaknya bisa buat film deh Mas..

mas Hanung...elamat ya film AAC nya bagus sekali, saya aja sampai terharu nonton film itu. Keindahan film yang ditawarkan pada novel maupun film nya boleh dibilang setara. Apalagi setelah saya tahu mengenai berbagai cobaan selama masa syuting, rasanya keindahan kota Cairo yang ditampilkan sangat indah. Oya, saya punya ide cerita film....dan saya hanya punya bayangan mas Hanung lah yang terbaik yang bisa merealisasikan ide cerita saya. kira-kira saya bisa kirim script ini ke alamat mas Hanung dimana? atau saya kirim via MD saja? Email saya:louisejumarani@yahoo.com

secara idea yg tertuang dlm film AAC memang cukup berkesan, saya salut pad anda mas, tetapi sebagai org yg juga pernah bekerja dan berkutat di PH ada 5 masukan saya untuk sampeyan:
1. adegan pd saat Nourah(Zakya Mecca) bertemu dengan keluarganya, "harunya" terlalu dipaksakan krn kurang adanya latar belakang yng membimbing kita menuju pertemuan itu..
2. saat adegan 'habis waktu' kunjungan aisyah dan memaksa fahri untuk mengatakan mencitai maria, namun fahri keberatan, kemudian aisyah keluar dan fahri didorong oleh sipir dan fahri sempet berkata' aisyah aku mencintaimu..'(pake bhs arab) harusnya mata fahri di close up bersamaam dgn keluarnya airmata...
3. saat adegan si org gila dipenjara menyadarkan fahri dengan menganalogikan cerita yusuf-zulaiha, sebenarnya sudah cukup baik hanya sayang sedihnya kurang didramatisir, harusnya endingnya fahri jatuh berlutut sambil mencium kain baju org gila yg lusuh itu untuk menunjukkan bahwa si org gila lebih 'mengenal' Allah ketimang dia sendiri yg selama ini merasa menjadi manusia suci...
4. saat adegan fahri menikahi maria adalah tidak mungkin dgn mudahnya Fahri mengatakan aku mencintaimu..padahal jelas2 ada aisyah dibelakangnya..krn kita tahu fahri adalah lelaki yng berhati lenbut dan menjaga perasaan wanita
5. akan lebih mengharukan pd saat marini sardi berterimakasih pd aisyah yg berjiwa besar menyuruh fahri menikahi maria adalah dg tdk hanya mencium tangan aisyah akan tetapi juga sampai mencium lutut aisyah dan aisyah langsung menyambut tubuh marini untuk saling berpelukan
6. saat maria wafat adegan kurang didramatisir, seolah film spt ingin cepat2 selesai..padahal kita tahu sebagian besar penonton sangat terbius dengan maria..

namun secara garis besar this is the good movie, congratz mas, sy paling suka adegan maria dan fahri di tepi sungai nil, thats perfect !

budi susena
mendawai PH
08123548033

Aku juga pernah mengalami hasil karyaku "diambil" orang... menyakitkan dan menyedihkan rasanya, terfikir apa dia gak malu menggunakan hasil karya orang dan berbangga bangga dengan karya orang lain ?

Bunda Khofifah

Sepulang dari Umroh sejak tiga hari yang lalu membuat hati dan diri ini yang masih didominasi ‘selimuti alam pikir’ gelombang alpha menjadi semakin sering bersenandung “Ya nabi salam ‘alaika” serta berbagai dzikir muhasabah. Juga entah kenapa tiba-tiba pikiran ini jadi melayang memikirkan bagaimana perkembangan salah seorang perempuan Indonesia yang saya kagumi – Khofifah Indar Parawansa – yang sekarang ini sedang menjadi salah satu kandidat Gubernur Jatim

Saya mengenal sosok Khofifah disaat menjadi salah seorang menteri pada Kabinet Presiden Gus Dur. Ia memegang amanah sebagi Mentri Negara Urusan Pemberdayaan Perempuan (Meneg PP). Memang sebagai salah satu menteri diwilayah tersebut yang pernah menjabat, Khofifah bukan yang paling tinggi pendidikannya.

Ada

nama lain yang sekarang ini sedang menjabat, ia adalah Prof. Dr. Meutia Hatta. Namun jurju saja dari hati sanubari yang terdalam justru Khofifah adalah yang paling vokal, serta paling menonjol kekaryaan / ‘sepak terjangnya.’

Mengenal Khofifah lebih dalam setelah menyaksikan pendampingan serta dorongan yang luar biasa yang diberikan kepada sang suami tercintanya disaat-saat genting pencapaian gelar tertinggi akademik dari PSL-IPB (Pusat Studi Lingkungan Hidup – Institut Pertanian Bogor). Ya, Pak Indar Parawansa adalah kakak kelasku di IPB,

Bogor

. Perkawanan dilanjutkan menjadi lebih dekat disaat bersama-sama Neno Warisman selama tiga bulan menjadi juri Pildacil di LaTV beberapa bulan yang lalu. Bersama Khofifah, kami berdua seringkali menyelipkan bebrbagai pesan lingkungan hidup berbasis argumen ilmu Al Quran. Para semi-finalis yang lalu menjadi finalis, kami coba masukkan pemahaman terhadap ilmu sistem lingkungan hidup yang holistic serta integrated dengan bahasa sederhana yang mudah dimengerti orang awam.

Kurang lebih tiga bulan yang lalu disaat pencanangan pertama Khofifah dan pasangannya bertempat disalah satu stadion besar di Surabaya, saya, mbak Emilia Contessa, Neno Warisman, beberapa artis lokal Jawa Timur, serta sebagian keluarga besar PPP dan warga Nahdiyin Jawa Timur (NU) berbaur dengan seluruh pendukung dari unsur partai pendukung lain pencalonan pasangan Ka-Ji tersebut. Kami semua partai pendukung beserta dengan ketua partai masing-masing hadir disana dan menyatakan dukungan resmi. Dan hari ini, tanggal 23 Juli 2008, akan menjadi salah satu hari yang paling bersejarah dalam kehidupan Bunda Khofifah (panggilan sayang seluruh kru, juri dan peserta acara Pildacil). Saat yang dinanti selam tiga bulan yang melelahkan datanglah jua, saat pencoblosan tiba! Saya mendoakan semoga semuanya berjalan lancar adanya tanpa kendala dzolim yang tidak diperlukan seperti yang telah nyata terjadi di Sulawesi Selatan dan Maluku Utara termasuk Pilkada Banten 2006 yang lalu diantaranya.


Namun, sayapun menyiapkan hipotesa, bahwa kemungkinan besar Pilkada Jatim 2008 ini – diluar menang atau tidak menang Khofifah dan pasangannya nanti -- kelihatannya tetap akan menyisa hari dengan setumpuk permasalahan kegelisahan hukum yang berkepanjangan. Sebagai warga negara, sebenarnya sudah sejak kurang lebih dua tahun lalu saya mersakan kegelisahan yang tidak penting ini. Tidak penting!, karena saya maupun warga negara Indonesia lain yang melek hukum masih ingin meyakinkan diri bahwa negeri ini sebenar-benarnya adalah sebuah negara hukum seperti yang telah dijamin oleh UUD 45 pada pasal 1 ayat 3. Namun dengan puluhan, ratusan, atau bahkan ribuan kejadian bertubi-tubi sejak 42 tahun yang lalu, membuat kita semua harus tetap memasang kewaspadaan dan membobot kembali keabsahan jaminan hukum dari sebuah rezim pemerintahan disebuah negeri yang bernama Indonesia tercinta ini.


Kemarin sore dalam kepulangan dari Balikpapan menuju Jakarta, saya berpapasan dengan Cawagub Kaltim pasangan AFI (Awang Farouk – Farid Wajdi) yang salah satunya diusung oleh PPP (Partai Persatuan Pembangunan). Diruang Executive Lounge Garuda Indonesia, saya menjalin sebuah diskusi cerdas hangat bersama Pak Farid. Beliau dengan latar belakang seorang Ustad dan pernah menjadi PNS Depag Kaltim sangat menyayangkan beberapa komentar yang keluar sebagai sebuah ungkapan arogan berbau sangat provokatif. Semisal, KPUD Kaltim tidak ada urusannya dengan MA (Mahkamah Agung). KPUD dapat menolak fatwa MA, dan lain sebagainya. Apabila benar hal-hal yang telah diucapkan tersebut terjadi, alangkah sangat disayangkannya. Mengingat kalimat janggal berbau emosi tersebut keluar dari mulut seorang yang terhormat dengan latar belakang perjalanan karir serta politik panjang di Indonesia yang sekaligus sebagai sebuah parameter masih terjadinya ’budaya’ premanisme politik-hukum yang dimasa lalu selama 32 tahun mendominasi negeri kita.


Sayapun kini termenung mengevaluasi konteks kejadian demi kejadian serba ribut dan gontok-gontokan pasca pelangsungan Pilkada hampir diseluruh Indonesia. Teringat akan salah satu sub-bab pada buku berjudul ”Il Principe” karya Nicolo Machiavelli. Dalam bukui yang aslinya ditulis dalam bahasa Italia tersebut digambarkan serta dijelaskan bahwa hukum ’tak tertulis’ didunia ini adalah bahwa pada 10 tahun masa pasca sekompok proletar berhasil menang atas kaum borjuis dan merebut kursi posisi penguasaan kepemerintahan, maka para kaum borjuis yang selama masa tersebut berpura-pura mereformasi diri demi bertahan terhadap gelombang perubahan sosial-politik, maka dengan kekuatan besar lama ia akan datang kembali dengan ’wajah serta baju baru.’ Kelompok reformis asal proletar tidak akan merasakan ancaman laten tersebut.


Hari ini bila kita mengacu kepada seluruh kekacauan yang terjadi sebenarnya, adalah indikator atau parameter akan masa dimana para ’monster politik’ masa lalu sudah ada didepan kita dengan kekuatan lebih prima, amunisi lebih mumpuni, sumberdaya manusia lebih siap bersaing, serta network strategy tak tertandingi yang hanya dapat dikalahkan apabila ada intervensi ’tangan’ Allah semata. Lihatlah kasus Lapindo yang tak kunjung selesai, yang akan menjadi pekerjaan rumah Khofifah bila ia menang nanti. Dengarkan jerit-tangis sebagian besar keluarga besar Jawa Timurann kita semua di Porong, Sidoarjo yang kehilangan segalanya serta terserabut dari akar budayanya. Doa panjangku untuk Bunda Khofifah dan pasangannya dalam Ka-Ji (www.kaji-manteb.com), semoga semakin mantab didalam berjihad dijalan-Nya. Dan ’manteb’ pula nantinya didalam mewakilkan jerit-derita wong Porong, Sidoarjo disaat nanti bernegosiasi dengan Presiden terpilih dan Mendagri yang akan datang 2009, jika insya allah menang nanti.


Namun, bila nanti kalah karena faktor kedzoliman dari aspek keadilan yang tidak jujur. Maka jalanlah sedih dan berkecil hati. ”La tahzan,” saranku sebagai kawan baikmu Ya Bunda Khofifah Kekasih Allah, teruslah berjuang jangan pernah mengatakan mengalah pada kebathilan seperti perjuanganku sampai dengan hari untuk ranah Propinsi Banten melalui berbagai peradilan / meja hijau hukum Indonesia. Doa ikhlasku untukmu sobat! All the best semua hanya karena Allah... hanya karena Allah... hanya karena Allah...


Oleh:


Hj. Marissa Haque Fawzi, SH, MHum, Kandidat Doktor.

Dituding menggunakan ijazah palsu, Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah geram, tapi lalu pingsan kata paswalnya tadi siang

* CERITA PENDEK TENTANG KAKI *

Bustham kembali menata Pikirannya. Dengan sekuat tenaga dia berusaha menutup lubang baru dihatinya. Luka yang kemarin saja dia masih kewalahan untuk menahan rasa sakit itu. Dan hari ini, Hatinya kembali terkoyak.
”Hei, Tam!. Jalannya tidak rata, ya?!”.
Kembali Rantai berduri melilit Hatinya. Dia terus melangkah terseok-seok. Sebenarnya jalan itu rata, tapi Kaki kirinya yang pincang membuatnya berjalan seperti berjalan diatas Sungai berbatu yang telah kering.
”Ya, Allaah. Jika Engkau menghendaki niscaya mereka yang berkaki pincang. Sedangkan aku yang berkaki kokoh akan mengolok-olok mereka. Tapi Engkau menyesatkan Orang-orang yang Engkau kehendaki, dan Engkau memberikan petunjuk bagi Orang-orang yang berserah diri kepada-Mu”.
Langitpun menjadi Bunglon. Warna kulitnya mulai berubah. Dari biru menjadi Emas, kemudian memerah, hingga akhirnya gelap tak berwarna. Lubang-lubang putih dihamparan Tirai hitam raksasa itu saling mengkerdipkan Matanya menghibur Hati yang terluka Bustham yang termenung. Bulan sabit tersenyum, tapi Bustham tak juga tersinggung.
”Jika kalian menghinaku, aku tulus. Tapi jika mereka menghinaku, aku hanya berusaha tulus. Sebenarnya aku sangat berharap Allaah akan menerima ketulusanku yang terlalu ku paksakan ini”.
Bustham lalu berpaling ke Bumi. Kerikil-kerikil kecil menciumi Jemari kaki-kakinya. Tapi ada yang salah dengan Kaki-kaki itu. Kaki kanannya lurus ke depan jauh lebih besar dari Kaki kirinya yang sedikit belok ke kiri. Bustham jadi teringat, usai Sholatpun Sahabat-sahabatnya masih sempat untuk meledeknya.
”Tam, kamu tahu tidak?. Sholat itu tidak diterima kalau berdirinya miring”,
”Kata siapa?, Allaah akan menerima Sholat meskipun hanya dengan Hati karena ketidak-berdayaan Hamba-Nya”,
”Coba saja kamu menjadi Imam, pasti Ma’mumnya akan berdiri miring semua. Bukankah Ma’mum harus mengikuti Imamnya!?”.
Kembali Dada Bustham dipenuhi Petir ketika tawa itu menyengat Telinganya. Dia menghela Nafas panjang teringat mereka yang memperoloknya adalah Orang-orang yang sangat dia kenal. Yaitu Orang-orang yang dia beri salam ketika dia melewati mereka sedangkan mereka menjawabnya hanya dengan olok-olokan belaka.
”Jika saja Allaah tidak mengikat tali persaudaraan antara aku dan mereka, niscaya aku akan mengharamkan mereka atas diriku”.
Bustham mulai berlari sekuat tenaga. Dia bahagia melihat Kaki-kakinya yang tiba-tiba menjadi sempurna. Hampir saja meledak tawa dimulut itu, tapi seorang sahabatnya datang menghentikannya.
”Maaf, Tam. Waktunya habis. Kamu harus segera mengembalikan Kakiku”.
Busthampun terbangun. Sungguh tak ada siang dan malam yang sempurna dalam hidupnya. Siang hari dia lelah mendengar caci-maki itu, malam haripun dia lelah dengan mimpinya sendiri.
Gelap malam terus menggelembungkan mimpi-mimpi Bustham. Seharusnya keadaan itu bisa melindunginya dari kelelahan, tapi tidak. Dalam tidurnya, dia kembali menjadi bahan olok-olokan.
Selepas subuh Matahari emas mulai menciumi Jendela rumah Bustham. Semburat Cahayanya menelusup diantara dedaunan Pohon-pohon Bambu yang berguguran diterpa Angin dingin suatu pagi dimusim panas. Titik-titik embun berkelipan Cahaya kuning memutih terguncang kepakan Sayap Burung-burung madu yang terbang berhamburan membentuk barisan seperti Mata panah. Puluhan Ekor Domba berlalu dengan seorang penggembala kecil berpakaian tebal. Bustham tersenyum melihatnya. Entah kenapa hari ini dia rasakan berbeda. Pagi ini dia bahagia. Ada sekuku harapan dihatinya. Hari ini akan lebih baik dari hari kemarin. Lalu datang seseorang menghampirinya.
”Pagi, Bustham. Semangat sekali menyapu Halaman?. Kenapa tidak kamu pakai saja Sapu lidi itu sebagai Tongkat berjalanmu?. Bukankah dengan berjalan saja, Kaki kirimu sudah menyapu semua?!”.
Seketika itu Matahari padam. Burung-burung berhenti bernyanyi. Bumipun menjauh dari Kakinya, jatuh. Tak ada apa-apa. Tak ada siapa-siapa. Hanya Bustham, sisa Hatinya, dan Allaah.
Bustham mulai berjalan menyeret Kaki kirinya yang sejak lahir mati. Ingin sekali dia menggerakkan Kaki itu hingga tak ada sesuatu apapun yang terseret bersamanya. Tapi tak bisa. Allaah telah meniupkan Ruhnya kedalam Raga yang cacat.
”Ya, Allaah. Entah apa yang sedang Engkau rencanakan terhadapku?. Sesungguhnya Kaki ini tidak pernah membuatku susah, tapi merekalah yang membuat hidupku terasa berat. Maka saksikanlah, demi Maha sempurna Engkau dan kesempurnaan Ciptaan-Mu. Ujilah aku dengan Kakiku, tapi jangan Engkau uji aku dengan caci-maki mereka untuk sehari saja”.
Bustham lalu memukul Kaki kirinya dengan sebongkah Batu hingga merekah dan mengucur merah. Dan seketika itu, Busthampun menjadi tuli. Jadilah Bustham seorang pincang yang tuli.

Karya : Alf’
Nama pena yang dipilih oleh Ali fahmi
Lahir di Tegal, 02 Agustus 1982

aku punya banyak cerita orisinil yg bisa mengguncang Indonesia..

contact me, please
alfalu_uthe@yahoo.com

- JAUH LEBIH LAMA DARI SELAMANYA -

Hangat Matahari yang sudah aku rasakan sejak pertama kali aku terlahir kebumi hari ini terasa sangat berbeda..
aku ingat hari ini seseorang yang sangat aku kenal akan pergi dari sisiku..
entah aku melihat Cahaya atau tidak
aku seperti tidak melihat apa-apa di sekitarku..
Matahari yang seringkali membuatku berkeringat
hari ini tak bisa aku rasakan..
hanya keringat yang menetes dari dahiku seperti sentuhan lembut yang begitu terasa dan suaranya terdengar begitu keras di telinga..
entah apa yang sedang terjadi..
entah apa yang membuatku mati rasa..
dalam penglihatanku hanya ada bayang-bayang yang bergerak sangat lambat..

Sesungguhnya Hatiku gundah mengingat dia akan segera pergi..
karena setelah dia pergi.. aku akan kembali menjadi seorang pengecut..
yaitu orang yang memandang Dunia ini begitu gelap.. dan kegelapan itu telah membuatku buta bertahun-tahun..
yang memandang Dunia ini begitu sepi.. dan sepi itu telah menjadikanku seorang penjahat..
yang memandang Dunia ini begitu dingin.. dan dingin itu telah mengeraskan Hatiku..

Sesungguhnya aku ingin dia tahu.. bahwa dia adalah Cahayaku..
yang melepaskan aku dari kegelapan..
dia adalah teman hidupku..
yang menjauhkan aku dari kesunyian..
dia adalah Apiku..
yang menghangatkan aku di setiap Malam Badai yang sering membuatku beku..

Aku mencintainya.. seperti Malam mencintai Bulan..
seperti Bunga-bunga mencintai Angin..
seperti Pagi mencintai Matahari..
aku mencintainya selayak Abdi mencintai Rajanya..
atau Raja mencintai Kerajaannya..
atau Kerajaan mencintai Tanahnya..

Entahlah..
aku tidak tahu bagaimana cara mengungkapkan Bara ini..
mungkin itu sebabnya dia tidak pernah tahu..
kalau sesungguhnya Aku mencintainya..
jauh lebih dalam dari luka yang pernah dia berikan..
dan jauh lebih lama dari selamanya..

alf'

alfalu_uthe@yahoo.com

- SEBUAH PENGLIHATAN -


Apa yang di pikirkan Ikan-ikan itu
ketika mereka berenang mendekat sedangkan Kail dan Umpannya ada di Tanganku
kagumkah mereka dengan Rupaku?
Burung-burung kecil terbang diatas Atap Rumah dalam keadaannya yang tidak juga menemukan Sarang
kagumkah mereka atas Rumahku?
Pohon-pohon mengatupkan Daunnya di liputi Asap yang mengepul di antara Tembok-tembok kokoh
kagumkah mereka dengan Api? sedangkan Api aku buat dari bagian Tubuh mereka

Sungguh aneh Waktu itu
Ketika Suara gemericik Air terdengar sangat lirih di Telinga
lalu Angin menggesekkan Bunga-bunga di satu Pohon dan seekor Burung Madu terbang ke Udara di ikuti ratusan Burung-burung lainnya membentuk barisan seperti Mata panah
Ada apa dengan mereka?
Ikan-ikan itu
Pohon-pohon itu
Burung-burung itu
Aku seperti melihat ketidak bahagiaan di Raut mereka
atau sebenarnya aku yang tak Bahagia
atau kami sama-sama tak Bahagia

Pernah sekali aku melihat kebahagiaan di Wajah mereka
yaitu saat aku telanjang berjalan ke Danau lalu berendam di sana sampai Matahari berubah Warna dari Putih menjadi Emas lalu berlanjut menjadi Merah
Waktu itu mereka seperti tersenyum melihatku
hingga aku berpikir apakah mereka iri denganku
atau aku yang sebenarnya iri dengan mereka

Ingin sekali aku bertukar tempat dengan mereka?
hingga aku bisa merasakan ketenangan yang di rasakan Ikan-ikan itu
atau nyamannya Pohon-pohon
atau merdekanya Burung-burung
aku tidak yakin mereka menginginkan tempatku
dan jika mereka benar-benar tidak menginginkannya
sungguh akan aku berikan apapun untuk selalu bersama mereka
termasuk tempatku sebagai Manusia

karya : alf'
nama pena yang dipilih oleh Ali Fahmi
lahir d'tegal 02 agustus 1982


contact me
alfalu_uthe@yahoo.com

Post a comment

Post a comment

Name:

You are currently signed in as .