« KENAPA FILM? | Main | INI BUKAN (sekedar) PENJIPLAKAN!!! »

PERCAKAPAN

Sebuah Cerpen dari Hanung Bramantyo

    Akhirnya layang-layang itu berhasil di terbangkan. Kuning. Berekor merah. Jingga langit senja itu menciptakan warna kontras. Suara tawa pecah dari mulut anak-anak kecil di lapangan. Gembira ...   
    kriiing!!
    'Hi, Al'    
    'Hi, Ben. lagi ngapain?'   
    'Beres-beres. Besok berangkat.'
    'Ke Sumbing?'   
    'Lawu.'
    'Kenapa kamu sering ke Lawu?'   
    'hmm...suka aja.'
    'Pasti pinus-pinus itu yang membuatmu jatuh hati.'   
    'Bukan. batu-batu itu yang membuatku selalu tertantang.'
    'haha, kamu e mang selalu merasa tertantang dengan apapun. Tidak cuma batu-batu.'
    'oh, gitu ya?'
    'Yeah. itu juga yang membuatmu selalu tampak antusias.'
    'oh ya?'
    'Dan ........ menyala.'

    layang-layang itu bergoyang tertiup angin. Menukik kebawah tiba-tiba. Anak-anak berteriak 'awass!!!!'.
    Kriiing! Kriiiing!   
    'Hi, Al.'   
    'baru bangun ya? Sorry, sorry. ntar aku telp lagi, deh.'
    'Gak apa-apa. aku emang harus bangun.'
    'bener gak apa-apa?'
    'hmm ... ada apa?'
    'Gimana Lawu?'
    'Hujan deras. Kejebak di pos 4. Gak bisa ngapa-ngapain.'
    'Yah, Sayang dong.'
    'Udah biasa, kok. minggu depan kesana lagi. Mungkin mampir Yogya. Tengok anakku.'
    'Aku kangen sama Rangga. Pengen peluk dia.'
    'Akhir bulan ini mau aku ajak ke Jakarta. Liburan sekolah.'
    'Ikutan dong. Aku kangen banget ama dia.'
    'Ntar Suamimu cemburu.'
    'Dia gak pernah cemburu. Dia juga gak pernah melarangku kemana-mana. Dia ... seperti tidak peduli sama aku'
    'Tapi dia kaya kan?'
    'Aku tidak butuh uangnya, Ben.'
    'Oh, maaf.'
    'Isterimu gimana?'
    'apanya?'
    'Dia akan kamu ajak?'   
    'Dia pasti gak mau.'
    'Tapi kamu sebenarnya pengen ajak dia, kan?'
    'Gak juga. Aku cuma pengen nyenengin Rangga aja. Udah 3 bulan gak ketemu.'
    'Kenapa isterimu begitu sih?'
    'apanya?'
    'Katamu, dia gak peduli sama Rangga lagi.'
    'Aku bilang, isteriku ‘seperti‘ tidak peduli sama Rangga. Bukan ‘sama sekali’  tidak peduli. Mungkin karena pekerjaannya. Dia kan workaholik. Tipe perempuan dengan banyak cita-cita dikepala. Cenderung Obsesif'
    'Kenapa kamu kawin sama dia?'
    'Kawin bukan cuma soal cinta, Al. Kawin soal komitmen?'   
    'Jadi menurut kamu isterimu gak bisa diajak berkomitmen?'   
    'Dia orang yg komit. Tapi ketika Rangga lahir, kami seperti kesusahan membagi tugas. Rangga seperti jadi penghalang cita-citanya. Aku sama dia jadi sering salah-salahan tanpa penyelesaian. Akhirnya Rangga yang jadi korban.'
    'Kamu cinta isterimu kan, Ben?'
    'Aku gak tahu, Al. Sekarang ini cintaku hanya buat Rangga.'

    Layang-layang itu berusaha stabil ditengah angin yang mulai mengencang. Bergoyang. Kekiri. Ke kanan. Terlihat si kecil penarik tali layang-layang meringis menahan gunjangan. Luka tangan akibat besetan benang tidak dihiraukan. Pedih. Tapi senang.
    'Kenapa kamu tidak cerai dengan isterimu, Ben?'
    'Kamu juga kenapa tidak cerai dengan suamimu?'
    'Kalau kamu ceraikan isterimu, aku akan ceraikan suamiku'   
    'Haha ...'
    'Aku serius, Ben.'
    'Ups. Sorry, aku cuma geli. Kamu tiba-tiba jadi melangkolis.'
    'Aku memang melangkolis, Ben. Aku juga rapuh. Aku butuh orang yang memperhatikanku. Mengerti aku. Mencintai aku.'
    'Aku bukan orang yang perhatian loh, Al. Aku juga bukan orang yang pengertian.'
    'Tapi aku cinta ama kamu, Ben'

    Sebuah layang-layang lain mendekat. lebih besar. Berwarna Hijau daun. Tanpa ekor. Anak-anak bersorak. Si Kecil pemegang kendali menjadi tertantang. Matanya yang semula menyipit berubah lebar. Tajam.
    Kriiiing! Kriiiiiiiing!     Kriiiiiiiiiiing!
    'Sorry Al, aku lagi mandi. Bisa telp 5 menit lagi?'
    'Gak bisa ya terima telp sambil mandi. Hp mu kan bisa di buka speakernya?'
    'Kalau kamu gak keberatan?'
    'Aku malah bisa sambil ngebayangin kamu.'
    'Hmm ...'
    'Aku kangen sekali ama kamu, Ben.'   

    Layang-layang hijau mulai mengejek layang-layang si kecil. Menantang. Sorak-sorai anak-anak yang lain membuat telinga si kecil jadi panas. Si kecil menggerakkan tangan kanannya, mendekatkan layang-layangnya ke arah lawan.
    'Suamimu kemana?'
    'Jangan tanya dia kemana. Dia tidak kemana-mana. Tapi aku tidak merasakan kehadiran dia.'
    'Kalau sampai dia tahu gimana?'
    'Dia bakal gak peduli.'
    'Sekalipun kamu bicara soal cinta?'
    'Sekalipun aku bicara soal sex dia juga tidak akan peduli. Dia laki-laki dingin. Statis. Tidak bergairah. Tidak sepertimu. Selalu membara.'   
    'Ah, kamu Al. Aku suka kalau kamu sudah membandingkan aku dengan suamimu.'
    'Ben. Aku kangen sama kamu.'
    'Aku juga.'
    'Aku ke kamar mandi dulu ya. Jangan ditutup hpnya.'

    Layang-Layang hijau tidak mau kalah. Dia menukik, menyentuhkan tubuhnya ke ekor si lawan. Terlihat Layang-layang si kecil bergoyang. 'Woooo!!!!' teriak anak-anak yang lain.
    'Aku sudah berbaring di bath up, Ben. Kamu?'
    'Aku duduk di Closet.'
    Layang-layang si kecil membalas menukik tidak mau kalah.
    'Ben aku bayangin kamu mendekapku.'
    'Aku juga.'
    'Aku menyentuhnya, Ben.'
    'Aku .... juga menyentuhnya.'
    'Aku .... '
    'Al ...'
    Layang-layang si kecil semakin memburu layang-layang Hijau. Dengan gesit layang-layang hijau menghindar untuk kembali menampar layang-layang si kecil. 'Anjing!' pekik si kecil.
    'Aku mulai naik, Ben.'
    'Aku suka itu, Al. teruskan.'
    'Aku naik, Ben.'
    'Aku .... juga.'
    'Woooooo!!!!' pekik anak-anak sambil tepuk tangan. Layang-layang hijau mulai menjeratkan benangnya ke layang-layang si kecil.
    'Aku gak kuat, Ben. Aku ...'
    'Teruskan, Al. Teruskan ...'
    Layang-Layang Hijau bergerak-gerak menggesek-gesekkan benangnya ke layang-layang si kecil. Saling tumpang tindih. Saling beradu. Diatas langit senja yang mulai memerah itu kedua layang-layang itu saling menampar. Sengit. Bergairah.
    'Aku sebentar lagi, Ben ...'
    'Teruskan, Al ...'
    'Bennn ...'
    'Allll ...'
    Benang layang-layang si kecil putus. Melayang tanpa benang terkait. Mengembara menuju langit senja yang mulai memerah. Sendirian. Lepas … Lepas …
     Perlahan, mata si kecil menjadi kosong. Nanar. Suara teman-temannya yang mengejek menjadi sumbang. Bergema. Kemudian hilang. Tinggal keheningan yang menyayat. Dia merasakan tubuhnya seperti melayang. hanya airmatanya yang dia rasakan jatuh ke tanah. Dia ... kehilangan.    
    'Ben ... kenapa kamu tidak mau kawin sama aku?’
    ‘mmm …’
    ‘Daripada kita terus-terusan seperti ini.'
    'Aku ...'
    'Aku bisa jadi Ibu yang baik buat Rangga. Isteri yang setia.'   
    'Aku tahu Al. Aku tahu ...'
    'Ceraikan isterimu. Lalu menikahlah denganku.'
    'Aku takut.'   
    'Takut apa?'
    'Aku tidak tahu, Al ...'
    'Beni yang aku kenal selalu tertantang sama batu-batu dan lereng-lereng terjal.'
    'hentikan, Al ...'
    'Berani melawan hujan badai, sekalipun seorang diri diatas gunung ...'
    'Hentikan! Please!'
    'Berani menari diatas bukit-bukit terjal menantang curamnya jurang.'
    'HENTIKAN!!!'
    'Aku mencintaimu, Beni! Aku mencintaimu!'
    'Aku ....  takut. Al'

***

    Dengan mata basah, si kecil masuk ke rumah. Seorang lelaki tua mendekati. Menatap matanya yang basah lalu menyeka kelopaknya. Si Kecil tidak berkata apa-apa. Seolah sudah terbiasa dengan sikapnya, si kecil dipeluk. Rasa kehilangan yang menyayat itu perlahan hilang. Berganti rindu. Rindu yang terpendam.
    'Bapak kapan datang, kek?'
    'Nanti kalau kamu libur sekolah.'
    'Rangga kangen ....'   
Lelaki tua yang disebut kakek itu kemudian mengajaknya masuk.   
    Krriiiing! Krrriiiiing!!!! Krrrriiiiiiiiiiiiiiiiing!!!!
    ‘Hai, gua Beni. Sorry, lagi gak bisa ngangkat telpon. Tinggalin pesan.‘

Jakarta, 23 April 2006
Hanung Bramantyo

                            

Comments

aku menikmati membaca cerpen ini... Cerpen yang manis. Sekali-sekali mas Hanung bisa buka blog aku, yaa...baru belajar menulis, keinginan yang sekian lama hanya terpendam...
Sukses ya Mas!

Salam,

hilma

keren ceritanya mas, walaupun aku rada bingung hehehe

Cerita yang berat, dalem, tapi bahasanya enak... Nulis cerpen2 juga aja boss!!

layang-layang pertama yang membekas dalam ingatanku, berwarna putih corak merah dengan strip hitam dan kuning hehe kebetulan kulihat dulu disebuah toko kecil di dekat pasar burung,ngasem

kriiing, kriiing...hmmm ngga ada jawaban, yah sudahlah
( siip, apek je pak! )

Huuyy ..

* CERITA PENDEK TENTANG KAKI *

Bustham kembali menata Pikirannya. Dengan sekuat tenaga dia berusaha menutup lubang baru dihatinya. Luka yang kemarin saja dia masih kewalahan untuk menahan rasa sakit itu. Dan hari ini, Hatinya kembali terkoyak.
”Hei, Tam!. Jalannya tidak rata, ya?!”.
Kembali Rantai berduri melilit Hatinya. Dia terus melangkah terseok-seok. Sebenarnya jalan itu rata, tapi Kaki kirinya yang pincang membuatnya berjalan seperti berjalan diatas Sungai berbatu yang telah kering.
”Ya, Allaah. Jika Engkau menghendaki niscaya mereka yang berkaki pincang. Sedangkan aku yang berkaki kokoh akan mengolok-olok mereka. Tapi Engkau menyesatkan Orang-orang yang Engkau kehendaki, dan Engkau memberikan petunjuk bagi Orang-orang yang berserah diri kepada-Mu”.
Langitpun menjadi Bunglon. Warna kulitnya mulai berubah. Dari biru menjadi Emas, kemudian memerah, hingga akhirnya gelap tak berwarna. Lubang-lubang putih dihamparan Tirai hitam raksasa itu saling mengkerdipkan Matanya menghibur Hati yang terluka Bustham yang termenung. Bulan sabit tersenyum, tapi Bustham tak juga tersinggung.
”Jika kalian menghinaku, aku tulus. Tapi jika mereka menghinaku, aku hanya berusaha tulus. Sebenarnya aku sangat berharap Allaah akan menerima ketulusanku yang terlalu ku paksakan ini”.
Bustham lalu berpaling ke Bumi. Kerikil-kerikil kecil menciumi Jemari kaki-kakinya. Tapi ada yang salah dengan Kaki-kaki itu. Kaki kanannya lurus ke depan jauh lebih besar dari Kaki kirinya yang sedikit belok ke kiri. Bustham jadi teringat, usai Sholatpun Sahabat-sahabatnya masih sempat untuk meledeknya.
”Tam, kamu tahu tidak?. Sholat itu tidak diterima kalau berdirinya miring”,
”Kata siapa?, Allaah akan menerima Sholat meskipun hanya dengan Hati karena ketidak-berdayaan Hamba-Nya”,
”Coba saja kamu menjadi Imam, pasti Ma’mumnya akan berdiri miring semua. Bukankah Ma’mum harus mengikuti Imamnya!?”.
Kembali Dada Bustham dipenuhi Petir ketika tawa itu menyengat Telinganya. Dia menghela Nafas panjang teringat mereka yang memperoloknya adalah Orang-orang yang sangat dia kenal. Yaitu Orang-orang yang dia beri salam ketika dia melewati mereka sedangkan mereka menjawabnya hanya dengan olok-olokan belaka.
”Jika saja Allaah tidak mengikat tali persaudaraan antara aku dan mereka, niscaya aku akan mengharamkan mereka atas diriku”.
Bustham mulai berlari sekuat tenaga. Dia bahagia melihat Kaki-kakinya yang tiba-tiba menjadi sempurna. Hampir saja meledak tawa dimulut itu, tapi seorang sahabatnya datang menghentikannya.
”Maaf, Tam. Waktunya habis. Kamu harus segera mengembalikan Kakiku”.
Busthampun terbangun. Sungguh tak ada siang dan malam yang sempurna dalam hidupnya. Siang hari dia lelah mendengar caci-maki itu, malam haripun dia lelah dengan mimpinya sendiri.
Gelap malam terus menggelembungkan mimpi-mimpi Bustham. Seharusnya keadaan itu bisa melindunginya dari kelelahan, tapi tidak. Dalam tidurnya, dia kembali menjadi bahan olok-olokan.
Selepas subuh Matahari emas mulai menciumi Jendela rumah Bustham. Semburat Cahayanya menelusup diantara dedaunan Pohon-pohon Bambu yang berguguran diterpa Angin dingin suatu pagi dimusim panas. Titik-titik embun berkelipan Cahaya kuning memutih terguncang kepakan Sayap Burung-burung madu yang terbang berhamburan membentuk barisan seperti Mata panah. Puluhan Ekor Domba berlalu dengan seorang penggembala kecil berpakaian tebal. Bustham tersenyum melihatnya. Entah kenapa hari ini dia rasakan berbeda. Pagi ini dia bahagia. Ada sekuku harapan dihatinya. Hari ini akan lebih baik dari hari kemarin. Lalu datang seseorang menghampirinya.
”Pagi, Bustham. Semangat sekali menyapu Halaman?. Kenapa tidak kamu pakai saja Sapu lidi itu sebagai Tongkat berjalanmu?. Bukankah dengan berjalan saja, Kaki kirimu sudah menyapu semua?!”.
Seketika itu Matahari padam. Burung-burung berhenti bernyanyi. Bumipun menjauh dari Kakinya, jatuh. Tak ada apa-apa. Tak ada siapa-siapa. Hanya Bustham, sisa Hatinya, dan Allaah.
Bustham mulai berjalan menyeret Kaki kirinya yang sejak lahir mati. Ingin sekali dia menggerakkan Kaki itu hingga tak ada sesuatu apapun yang terseret bersamanya. Tapi tak bisa. Allaah telah meniupkan Ruhnya kedalam Raga yang cacat.
”Ya, Allaah. Entah apa yang sedang Engkau rencanakan terhadapku?. Sesungguhnya Kaki ini tidak pernah membuatku susah, tapi merekalah yang membuat hidupku terasa berat. Maka saksikanlah, demi Maha sempurna Engkau dan kesempurnaan Ciptaan-Mu. Ujilah aku dengan Kakiku, tapi jangan Engkau uji aku dengan caci-maki mereka untuk sehari saja”.
Bustham lalu memukul Kaki kirinya dengan sebongkah Batu hingga merekah dan mengucur merah. Dan seketika itu, Busthampun menjadi tuli. Jadilah Bustham seorang pincang yang tuli.

Karya : Alf’
Nama pena yang dipilih oleh Ali fahmi
Lahir di Tegal, 02 Agustus 1982

contact me please
alfalu_uthe@yahoo.com

* 29 HARI TIDUR *

Bustham terkulai lemas, cairan Infus masih menetes dengan cepat. Diantara hidup dan mati Bustham mendengar Ibunya menangis lirih.
”Akan membutuhkan waktu yang lama untuk menyembuhkan Putra anda, Nyonya. Obat-obat ini tidak akan bekerja maksimal. Kadar Phsycotropica dalam darahnya terlalu tinggi. Saya sendiri heran, bagaimana dia bisa bertahan sejauh ini”. Dokter masih serius memeriksa keadaan Bustham.
Malam itu Sang Ibu memandangi Putranya yang baru saja melewati masa kritis. Terdengar suara lirih sang Ayah memukulkan Kepalanya perlahan-lahan kedinding Kamar ICU. Tapi suara itu terdengar begitu keras ditelinga Bustham, kemudian menghilang ditelan Pintu yang bergerak.
”Belum tidur, Nyonya?”, tanya seorang Perawat sembari memeriksa keadaan Bustham.
”Apa ada seorang Ibu yang bisa tidur melihat Putranya sedang terbaring diantara hidup dan mati?”,
”Nyonya jangan begitu. Putra Nyonya akan sembuh. Dia akan belajar untuk menghargai kehidupan”.
Bustham tersentak. Suara lembut seorang Gadis menarik perhatiannya. Ingin sekali dia membuka matanya untuk melihat siapa gerangan yang memiliki suara indah itu, tapi tak bisa. Koma masih menahan Jiwanya.
Suster mulai merobek halaman paling depan Kalender yang tergantung disisi Pintu. Bulan telah berganti, tapi Bustham masih sibuk menjelajahi Surga didalam tidur panjangnya.
”Ini salah Mama. Mama seharusnya bisa mengawasinya”,
”Tega Papa mengatakan itu?. Bukannya Papa yang terlalu sibuk dengan urusan Papa?”,
”Itu sudah menjadi kewajiban Papa untuk menghidupi kalian”
”Kehidupan yang mana, Pa?. Apa Papa pernah punya waktu untuk Bustham?. Apa Papa disana, waktu dia mulai belajar berjalan?. Apa Papa disana, waktu dia dikhitan?. Apa Papa disana, waktu Konser pertamanya?”,
”Itu masalahnya, Ma. Sebenarnya Papa tidak suka Bustham menjadi Pemusik Rock. Papa tahu, sampah itu akan menghancurkan hidupnya suatu hari nanti. Dan sekarang semuanya terbukti”,
”Lalu kenapa Papa sendiri tidak mengatakan padanya sejak dari dulu?!”.
Ditengah Padang rumput yang luas Bustham duduk santai memetik Gitarnya. Bunga-bunga putih terhampar hijau-putih bersiur-siur dihembus Angin dingin yang membelainya. Wajah Bustham bersinar-sinar. Kupu-kupu menari menemaninya. Sejenak Bustham merasakan kedamaian itu. Tapi tiba-tiba Mendung datang menelan Matahari yang sedang menghangatkan Jiwanya. Kupu-kupu mulai berhamburan mencari tempat berlindung layaknya Badai akan segera datang. Rumput-rumput mulai hitam meranggas. Bunga-bunga Putih mulai berguguran dihempas Angin dingin yang bisa membekukan. Dan Guntur mulai menyambar memekakan Telinga Bustham, lalu berubah menjadi suara pertengkaran Ayah dan Ibunya.
”Mulai lagi. Kenapa mereka tidak bisa membiarkan aku tenang?. Dalam mimpipun mereka tetap saja bertengkar. Ah, aku benar-benar tidak mau bangun”.

Lebih lanjut hubungi Alf’
alfalu_uthe@yahoo.com

Post a comment

Post a comment

Name:

You are currently signed in as .